Pelayanan farmasi merupakan salah satu komponen utama dalam operasional rumah sakit yang menyerap porsi besar dari biaya operasional dan berpotensi menimbulkan tekanan terhadap keberlanjutan keuangan institusi. Di Indonesia, proporsi biaya obat dilaporkan mencapai 40–50% dari total biaya operasional rumah sakit, jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju yang berada pada kisaran 10–20%. Kondisi ini menuntut penerapan sistem pengendalian persediaan obat yang efektif, khususnya dalam konteks implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan mekanisme pembayaran INA-CBGs yang membatasi fleksibilitas anggaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan metode analisis ABC–VEN sebagai alat pengendalian persediaan obat dalam meningkatkan efisiensi anggaran farmasi serta dampaknya terhadap likuiditas rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif-analitik terhadap artikel jurnal nasional dan internasional, buku teks, laporan penelitian, serta regulasi pemerintah yang relevan dengan manajemen persediaan farmasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa klasifikasi ABC secara konsisten menempatkan sekitar 10–20% item obat dalam kategori A yang menyerap 70–80% total anggaran farmasi. Integrasi dengan analisis VEN memungkinkan identifikasi obat berbiaya tinggi namun berdampak klinis rendah (kategori AN) yang menjadi sasaran utama efisiensi. Berbagai studi melaporkan bahwa penerapan ABC–VEN mampu menghasilkan penghematan anggaran farmasi sebesar 6–15%, menurunkan angka stockout obat vital, serta meminimalkan dead stock. Kesimpulan kajian ini menunjukkan bahwa metode ABC–VEN merupakan instrumen strategis yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan efisiensi anggaran farmasi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperbaiki likuiditas rumah sakit melalui pengurangan overstock dan percepatan perputaran persediaan.
Copyrights © 2026