Penerimaan dan penyimpanan obat merupakan bagian krusial dalam manajemen obat di rumah sakit karena berpengaruh langsung terhadap mutu obat dan keselamatan pasien. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) memegang peran strategis dalam menjamin bahwa obat yang diterima dan disimpan memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat. Kesalahan pada tahap ini berpotensi menimbulkan kerugian besar dari sisi klinis, ekonomi, dan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian proses penerimaan dan penyimpanan obat di instalasi farmasi rumah sakit dengan standar pelayanan kefarmasian yang berlaku. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur sistematis dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah, jurnal nasional terakreditasi, dan dokumen ilmiah relevan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif untuk mengidentifikasi tingkat kesesuaian praktik di lapangan serta permasalahan yang sering ditemukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses penerimaan obat pada umumnya telah mencakup pemeriksaan administrasi dan fisik, namun masih terdapat ketidaksesuaian pada aspek kelengkapan dokumentasi, pemantauan suhu untuk obat sensitif, dan konsistensi pelaksanaan prosedur yang dipengaruhi oleh beban kerja dan kompetensi petugas. Pada aspek penyimpanan, sebagian besar rumah sakit telah menerapkan prinsip dasar, tetapi masih menghadapi kendala terkait pengendalian suhu dan kelembaban, penerapan sistem FIFO dan FEFO yang tidak konsisten, penataan obat berisiko tinggi dan LASA, serta sistem pencatatan stok yang terintegrasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi berkala, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan sistem manajemen obat sebagai dasar perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
Copyrights © 2026