Indonesia merupakan negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia dan proporsi lansia yang meningkat setiap tahun. Layanan kesehatan primer memainkan peran kunci dalam deteksi dini dan pemantauan kondisi kronis tersebut. Integrasi Mahadata dan Internet of Things(IoT) berpotensi memperkuat kesinambungan layanan melalui data terstandar, pemantauan fisiologis real-time, serta peringatan dini komplikasi. Namun tingkat kesiapan infrastruktur digital di fasilitas primer Indonesia belum terdokumentasi secara memadai. Scoping review mengikuti kerangka Arksey dan O’Malley serta pedoman PRISMA-ScR. Pencarian dilakukan di PubMed, Scopus, Web of Science, IEEE Xplore, dan Google Scholar menggunakan kata kunci terkait Mahadata, IoT, manajemen penyakit kronis, dan kesehatan haji. Sebanyak 30 publikasi terpilih dari periode 2014–2025 dianalisis kelayakannya berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Temuan menunjukkan adopsi platform SATUSEHAT di fasilitas primer masih terhambat masalah interoperabilitas data dan beban administrasi ganda. Kesenjangan infrastruktur digital antara wilayah pedesaan dan perkotaan masih signifikan. Teknologi IoT, khususnya wearable device, terbukti efektif mendeteksi heat-related illness, namun penerapannya mayoritas masih berskala uji coba (pilot). Hambatan utama meliputi rendahnya literasi digital tenaga kesehatan serta belum adanya regulasi etika yang terintegrasi penuh. Kesiapan Mahadata dan Internet of Things di layanan primer Indonesia masih parsial dan dalam tahap berkembang. Optimalisasi pengelolaan penyakit kronis jamaah haji memerlukan prioritas pada penguatan interoperabilitas sistem, peningkatan kompetensi digital tenaga kesehatan, serta harmonisasi kebijakan nasional.
Copyrights © 2025