Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan relasi kuasa antara korporasi perkebunan dan petani kelapa sawit plasma yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan serta kemandirian petani. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis bentuk relasi kuasa yang dibangun PT. Surya Raya Lestari II dengan petani plasma di Desa Babana, Kecamatan Budong-Budong, serta dampaknya terhadap aspek sosial-ekonomi petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan informan yang terdiri dari petani plasma, karyawan perusahaan, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan inti-plasma berjalan dalam bingkai saling menguntungkan, di mana petani menyediakan lahan dan tenaga kerja, sedangkan perusahaan memberikan sarana produksi, pendampingan teknis, dan jaminan pasar. Namun, perusahaan memegang dominasi dalam penguasaan pengetahuan teknis, penetapan standar produksi, dan mekanisme pengawasan, yang membatasi daya tawar petani, khususnya pada penentuan harga Tandan Buah Segar (TBS). Kesimpulan penelitian menegaskan adanya keterikatan yang memperkuat posisi dominan perusahaan, meskipun memberikan manfaat ekonomi bagi petani. Rekomendasi diarahkan pada penguatan kelembagaan petani dan diversifikasi akses pasar untuk menciptakan kemitraan yang lebih setara dan berkelanjutan Welfare and independence. The objective of this study is to analyze the form of power relations established by PT. Surya Raya Lestari II with plasma farmers in Babana Village, Budong-Budong District, and its impact on the farmers' socio-economic conditions. This research employs a descriptive qualitative method, using observation, in-depth interviews, and documentation, with informants comprising plasma farmers, company employees, and community leaders. The findings indicate that the nucleus-plasma partnership operates within a mutually beneficial framework, in which farmers provide land and labor. At the same time, the company supplies production facilities, technical assistance, and market guarantees. However, the company holds dominance in controlling technical knowledge, setting production standards, and implementing monitoring mechanisms, which limit farmers' bargaining power, particularly in determining the price of Fresh Fruit Bunches (FFB). The study concludes that a structural dependency reinforces the company's dominant position, despite providing economic benefits to farmers. The recommendations focus on strengthening farmers' institutions and diversifying market access to create a more equitable and sustainable partnership.
Copyrights © 2025