Penelitian ini menelaah konflik sosial yang muncul setelah kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memusatkan perhatian pada pengalaman orang tua siswa serta respons institusi melalui wawancara, analisis pemberitaan, dan studi dokumen. Temuan menunjukkan adanya implementation gap yang dipicu oleh lemahnya pengawasan keamanan pangan, proses pemeriksaan laboratorium yang tidak transparan, serta praktik pengadaan yang rentan penyimpangan sehingga memperburuk ketegangan antara orang tua, sekolah, dan pemerintah. Studi ini menegaskan pentingnya peningkatan akuntabilitas, transparansi informasi, partisipasi publik, serta reformasi tata kelola pelaksanaan program untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan memastikan keselamatan siswa. This study explores the social conflict that emerged following the food-poisoning incident in the Free Nutritious Meal Program (MBG), focusing on parents’ experiences and institutional responses through interviews, media content analysis, and document review. The findings reveal a clear implementation gap driven by inadequate food-safety monitoring, non-transparent laboratory reporting, and procurement practices vulnerable to irregularities, all of which intensified tensions among parents, schools, and government actors. The study highlights the need for stronger accountability, transparent information flow, public participation, and governance reforms to restore community trust and ensure student safety.
Copyrights © 2025