Akses yang semakin mudah dan terbuka terhadap teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mendorong lahirnya inovasi baru dalam produksi konten digital. Namun, di sisi lain, perkembangan ini juga memunculkan tantangan serius terhadap keandalan dan objektivitas informasi. Penyalahgunaan AI di media sosial semakin meningkat, ditandai dengan munculnya konten manipulatif yang tampak sangat realistis dan sulit dikenali, seperti deepfake pada video dan audio serta rekayasa visual untuk menyebarkan disinformasi dan memicu konflik. Ancaman ini melampaui hoaks berbasis teks karena AI mampu menciptakan situasi krisis kepercayaan, di mana perbedaan antara fakta dan kebohongan menjadi semakin kabur di mata publik. Konten semacam ini umumnya dirancang untuk memengaruhi emosi dan membentuk persepsi, sehingga audiens cenderung menerima informasi tanpa melakukan verifikasi. Artikel ini mengkaji pola penyalahgunaan AI oleh pengguna serta implikasinya terhadap ekosistem media sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa fenomena tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan publik secara luas, tidak hanya terhadap media, tetapi juga terhadap lembaga penegak hukum, pemerintah, dan pihak-pihak terkait lainnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperparah polarisasi sosial dan melemahkan kredibilitas publik. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif melalui penegakan aturan penggunaan teknologi dan penguatan literasi digital agar masyarakat lebih kritis dalam menyikapi informasi.
Copyrights © 2025