Bahasa kasar secara umum dipersepsikan negatif dalam komunikasi, namun dalam konteks pertemanan mahasiswa, sering kali berfungsi sebagai penanda keakraban dan solidaritas. Penelitian terdahulu belum banyak mengeksplorasi kompleksitas fungsi serta dampak sosio-pragmatisnya dalam pergaulan mahasiswa di lingkungan kampus tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku penggunaan bahasa kasar di kalangan mahasiswa Universitas Djuanda Bogor serta mengeksplorasi dampaknya terhadap hubungan sosial mereka. Metode kualitatif deskriptif diterapkan dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi terhadap 12 mahasiswa aktif dari berbagai fakultas hingga mencapai titik kejenuhan data. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa meskipun dipahami sebagai bentuk ketidaksopanan, bahasa kasar lazim digunakan terutama di antara teman dekat untuk bercanda, bereaksi spontan, atau mengekspresikan emosi. Faktor pendorong utamanya adalah lingkungan pertemanan, media sosial, dan permainan daring. Dampaknya bersifat paradoksal, di satu sisi dapat mempererat ikatan dalam kelompok sebaya, tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan konflik jika digunakan di luar konteks kedekatan atau situasi formal. Temuan penelitian menyoroti pentingnya kecerdasan komunikasi kontekstual dan kesadaran akan batasan penggunaan bahasa di lingkungan kampus. Keterbatasan penelitian terletak pada cakupan sampel yang terbatas pada satu universitas. Implikasinya, diskusi etika komunikasi di perguruan tinggi perlu mempertimbangkan fungsi sosial bahasa dan konteks interaksi, di samping norma kesopanan.
Copyrights © 2026