Briket bioenergi dari batok kelapa dan kayu tembesu dikarakterisasi untuk memandu pemilihan komposisi pada aplikasi konversi termokimia. Analisis proksimat (kadar air, zat terbang, abu, fixed carbon) dan ultimat (C–H–N) dilakukan mengikuti ASTM D7582 dan ASTM D5373. Termogravimetri (TGA) melengkapi dengan memetakan tahapan kehilangan massa dan residu abu. Pada lima komposisi (90:10 hingga 10:90, batok:tembesu, interval antar komposisi adalah perubahan 20% untuk setiap komponen), kenaikan tembesu secara sistematis menurunkan kadar karbon (68 - 57 wt%) dan fixed carbon (60 - 49 wt%) serta sedikit menaikkan hidrogen (4,2 - 5,5 wt%). Kurva TGA menunjukkan pengeringan awal di bawah ~400 K, devolatilisasi dan reaksi arang dominan pada ~600–1000 K, serta residu stabil yang setara 3 – 3,5 wt% abu. Campuran 90:10 memberikan metrik mutu paling unggul, mengindikasikan densitas energi dan hasil arang yang lebih baik dibanding campuran dengan tembesu lebih tinggi. Hasil ini memberi dasar empiris untuk pemilihan bahan bakar dan penetapan set-point reaktor (jendela pengeringan/devolatilisasi) pada gasifier skala kecil dan combustor unggun tetap. Kata kunci : briket, batok kelapa, kayu tembesu, karakterisasi, mutu bahan bakar.
Copyrights © 2025