Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH KECEPATAN ALIRAN UDARA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN PADA SALURAN PIPA 3 INCI Junita, Boni; Intang, Ambo; Ependi, Satim; Rusnadi
SINERGI POLMED: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol. 5 No. 1 (2024): Edisi Februari
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/sinergipolmed.v5i1.1543

Abstract

Penurunan tekanan merupakan salah satu masalah utama dalam suatu prosess, karena jika penurunan tekanan yang terjadi tinggi maka energi yang di perlukan akan lebih banyak. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap variabel yang mempengaruhi penurunan tekanan udara sepanjang aliran pada pipa seperti gesekan antara udara dan dinding pipa. Peralatan pada penelitian ini berupa pipa besi diameter 3 inci, pajang 550 cm dan tebal 2 mm. Pipa besi ini memiliki 10 titik pengukuran tekanan P1 sampai P10 dengan jarak 53 cm setiap titiknya, serta terdapat alat pengatur udara dan katup pengatur aliran udara bukaan katup 40°, 60° dan 90°. Hasil penelitian menunjukan jika titik tekanan P10 memiliki nilai tekanan tertinggi pada setiap kecepatan laju alir udara dan pada titik tekanan P1 memiliki nilai tekanan paling rendah bahkan untuk seluruh variasi kecepatan laju alir udara. Tekanan tertinggi terdapat pada titik tekanan P10 adalah sebesar 101,798 Pa pada variasi kecepatan laju alir udara sebessar 20 m/s dan terendah pada variasi kecepatan laju alir udara 13 m/s dengan tekanan 101,384 Pa pada P1. Penurunan tekanan udara pada setiap titik tekanan memiliki nilai yang tidak besar yaitu 7,472 Pa hingga 74,326 Pa. Kecepatan laju alir udara akan mempengaruhi nilai penurunan tekanan karena adanya variasi kecepatan laju alir udara. Tingkat penurunan tekanan udara terjadi karena gesekan pada dinding pipa besi. Jarak antar titik tidak menjadi pengaruh karena jarak titik tekan tidak terlalu jauh, sehingga terjadi peningkatan tekanan udara pada sisi hisap aliran udara dan hasilnya nilai penurunan tekanan terlalu signifikan.
Sosialisasi dan Pembinaan Aplikasi Mesin Minyak Kelapa VCO di Desa Sungai Semut Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan Intang, Ambo; Junita, Boni; Rusnadi, Rusnadi; Wulandari, Enasty Pratiwi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 4 (2024): Juni
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i4.952

Abstract

Kegiatan dilakukan di Desa Sungai Semut Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Dimana mata pencaharian utama didesa tersebut yakni bersumber dari perkebunan dan pertanian. Kelapa merupakan salah satu komoditas Perkebunan utama di desa ini. Untuk meningkatkan nilai jual kelapa dapat diolah menjadi VCO. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan  sosialisasi terhadap Masyarakat tentang pengolahan VCO dengan metode Direct Micro Expelling (DME). Sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan edukasi dan menambah wawasan Masyarakat guna  mengoptimalkan pengolahan hasil kebun kelapa menjadi VCO yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi, sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
KARAKTERISASI TERMOGRAVIMETRI DAN METRIK MUTU BAHAN BAKAR BRIKET BATOK KELAPA–KAYU TEMBESU Adi, Wily Priya; Intang, Ambo; Ilmi, Bahrul; Junita, Boni; Rusnadi, Rusnadi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v12i2.390

Abstract

Briket bioenergi dari batok kelapa dan kayu tembesu dikarakterisasi untuk memandu pemilihan komposisi pada aplikasi konversi termokimia. Analisis proksimat (kadar air, zat terbang, abu, fixed carbon) dan ultimat (C–H–N) dilakukan mengikuti ASTM D7582 dan ASTM D5373. Termogravimetri (TGA) melengkapi dengan memetakan tahapan kehilangan massa dan residu abu. Pada lima komposisi (90:10 hingga 10:90, batok:tembesu, interval antar komposisi adalah perubahan 20% untuk setiap komponen), kenaikan tembesu secara sistematis menurunkan kadar karbon (68 - 57 wt%) dan fixed carbon (60 - 49 wt%) serta sedikit menaikkan hidrogen (4,2 - 5,5 wt%). Kurva TGA menunjukkan pengeringan awal di bawah ~400 K, devolatilisasi dan reaksi arang dominan pada ~600–1000 K, serta residu stabil yang setara 3 – 3,5 wt% abu. Campuran 90:10 memberikan metrik mutu paling unggul, mengindikasikan densitas energi dan hasil arang yang lebih baik dibanding campuran dengan tembesu lebih tinggi. Hasil ini memberi dasar empiris untuk pemilihan bahan bakar dan penetapan set-point reaktor (jendela pengeringan/devolatilisasi) pada gasifier skala kecil dan combustor unggun tetap. Kata kunci : briket, batok kelapa, kayu tembesu, karakterisasi, mutu bahan bakar.
BINDER‑DRIVEN TRADE‑OFFS PADA BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA: KERANGKA ISOKONVERSI TERMOGRAVIMETRI DENGAN PATI TAPIOKA (15–20 WT%) Hasyemi, A. Ghalib; Intang, Ambo; Ilmi, Bahrul; Junita, Boni; Rusnadi, Rusnadi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v12i2.392

Abstract

Pemilihan perekat pada briket arang mengendalikan integritas mekanik sekaligus perilaku termokimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh variasi perekat pati tapioka (15 dan 20 wt%) terhadap perilaku dekomposisi termokimia briket arang tempurung kelapa. Briket dievaluasi menggunakan pencatatan kehilangan massa terhadap waktu serta analisis turunan sesuai praktik termogravimetri (TG/DTG). Profil pemanasan non‑linier menuntut perbandingan berbasis waktu dan derajat konversi: metrik yang dihitung mencakup α(t), laju incremental dα/dt, metrik waktu menuju konversi tα​ (α=0,10–0,90), serta residu akhir. Hasil menunjukkan konversi lebih dini dan lebih cepat pada beberapa tahap untuk perekat 20% (mis., t0.1​: 62,05 menit vs 101,35 menit; t0.9​: 220,10 vs 245,57 menit), dengan puncak DTG sekitar t≈200 menit. Namun, residu meningkat tajam dari ~5,85% (15%) menjadi ~17,80% (20%), yang mengindikasikan pembentukan arang dan/atau re‑polimerisasi tar yang lebih kuat. Studi ini turut mengartikulasikan kerangka pelaporan agar dataset multi‑β (≥3 laju pemanasan linier) berikutnya dapat menghasilkan energi aktivasi isokonversi Ea​(α) melalui FWO/KAS. Secara praktis, kisaran perekat menengah (≈10–15%) tampil sebagai titik awal rasional untuk menyeimbangkan kekuatan, kinetika konversi, dan residu. Studi ini memperkaya sains formulasi briket dengan metrik reprodusibel berdimensi‑nol dan translasi rekayasa yang jelas ke desain reaktor dan kendali mutu. Kata kunci : arang tempurung kelapa, pati tapioca, briket, termogravimetri, energi aktivasi