Formasi ideologi dalam cerita pendek “God Sees the Truth, But Waits” menjadi fokus utama penelitian ini, khususnya terkait bagaimana berbagai ideologi direpresentasikan dan dinegosiasikan dalam cerita. Dengan menggunakan kerangka hegemoni Antonio Gramsci, penelitian ini memandang teks bukan hanya sebagai cerita moral, tetapi sebagai ruang kontestasi ideologi. Pendekatan kualitatif diterapkan dengan desain analisis wacana kritis melalui teknik close reading untuk mengidentifikasi struktur naratif, penokohan, dialog, dan simbol sebagai penanda ideologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisionalisme, materialisme, anarkisme, humanisme, dan spiritualisme hadir dan saling berinteraksi melalui hubungan ideologi kontradiktif, korelatif, dan subordinatif. Materialisme tampak sebagai ideologi dominan pada awal narasi, sementara spiritualisme secara bertahap menjadi ideologi penengah melalui transformasi tokoh utama. Pergeseran ini menunjukkan adanya negosiasi ideologi yang berlangsung melalui mekanisme konsensus alih-alih paksaan sebagaimana konsep hegemoni Gramsci. Penelitian ini menyimpulkan bahwa “God Sees the Truth, But Waits” tidak hanya menampilkan nilai moral dan spiritual, tetapi juga merepresentasikan ideologi kolektif yang mencerminkan pandangan sosial-politik Tolstoy sebagai pengarang.
Copyrights © 2025