Penelitian ini bertujuan untuk memahami pelanggaran etika guru dalam bentuk tindakan menyindir dan mempermalukan siswa yang tidak dapat mengikuti kegiatan perpisahan sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus dan studi literatur, penelitian ini menggali pola perilaku guru yang bertentangan dengan profesionalisme dan kode etik pendidik. Data studi kasus menunjukkan adanya ketidakkonsistenan komunikasi guru, yang pada awalnya mengizinkan ketidakhadiran siswa, namun kemudian memberikan sindiran di depan kelas. Tindakan tersebut terbukti menimbulkan dampak psikologis, seperti rasa malu, rendah diri, stres, dan penurunan motivasi belajar. Temuan literatur mendukung hasil studi kasus, bahwa komunikasi negatif dan tidak empatik dapat merusak kepercayaan diri siswa, menghambat partisipasi dalam pembelajaran, serta memperlemah hubungan guru–siswa. Selain itu, minimnya respons kepala sekolah memperlihatkan lemahnya sistem perlindungan terhadap siswa dari keluarga ekonomi lemah. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kompetensi sosial, komunikasi empatik, serta kesadaran profesional guru untuk mencegah pelanggaran etika. Diperlukan upaya perbaikan pola komunikasi di lingkungan sekolah dengan melibatkan guru, siswa, dan orang tua dalam interaksi yang terbuka, nondiskriminatif, dan menghargai martabat peserta didik.
Copyrights © 2026