Pembelajaran matematika di SMA menghadapi tantangan dalam meningkatkan pemahaman konsep serta keterampilan literasi dan numerasi. Model blended learning muncul sebagai solusi yang mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dan daring, memungkinkan pembelajaran yang fleksibel, interaktif, dan adaptif. Model ini dapat meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan aktif siswa, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Di Balikpapan, penerapan blended learning sangat relevan untuk memperkuat literasi dan numerasi siswa melalui inovasi pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan lokal dan perkembangan teknologi. Tujuan penelitian ini mengeksplorasi praktik blended learning dalam pembelajaran matematika untuk memperkuat literasi dan numerasi siswa SMA di Balikpapan. Metode penelitian yang digunakan dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus eksploratif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi praktik pembelajaran yang berjalan. Hasil wawancara dianalisis dengan menggunakan NVivo 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan blended learning secara efektif meningkatkan keterlibatan siswa, kemandirian belajar, serta kompetensi literasi dan numerasi digital melalui penggunaan berbagai platform dan media pembelajaran digital seperti GeoGebra, Kahoot, dan Google Classroom. Selain itu, inovasi dan adaptasi guru dalam mengelola pembelajaran blended learning mampu mengatasi kendala teknis dan pedagogis yang muncul selama proses belajar. Kesimpulan penelitian ini adalah blended learning merupakan strategi pembelajaran yang relevan dan efektif dalam mendukung pengembangan keterampilan abad 21, khususnya literasi dan numerasi, dengan syarat dukungan pelatihan dan infrastruktur yang memadai. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan metode pembelajaran matematika yang adaptif dan inovatif di tingkat SMA.Mathematics learning in high schools faces challenges in improving students' conceptual understanding and literacy and numeracy skills. The blended learning model emerged as a solution that combines face-to-face and online learning, enabling flexible, interactive, and adaptive learning. This model can increase student learning motivation and active engagement, while utilizing digital technology to support an effective and efficient learning process. In Balikpapan, the implementation of blended learning is highly relevant to strengthening student literacy and numeracy through learning innovations that are adaptive to local needs and technological developments. The purpose of this study was to explore blended learning practices in mathematics learning to strengthen the literacy and numeracy of high school students in Balikpapan. The research method used was a qualitative approach with an exploratory case study type. Data collection was through interviews and documentation of ongoing learning practices. Interview results were analyzed using NVivo 15. The results showed that the implementation of blended learning effectively increased student engagement, learning independence, and digital literacy and numeracy competencies through the use of various digital learning platforms and media such as GeoGebra, Kahoot, and Google Classroom. In addition, teacher innovation and adaptation in managing blended learning were able to overcome technical and pedagogical obstacles that emerged during the learning process. The conclusion of this study is that blended learning is a relevant and effective learning strategy for supporting the development of 21st-century skills, particularly literacy and numeracy, provided adequate training and infrastructure support is provided. This research makes an important contribution to the development of adaptive and innovative mathematics learning methods at the high school level.
Copyrights © 2025