The growing pressure faced by Generation Z employees shows that flexible work arrangements and digital technology do not always ensure psychological wellbeing. This generation works in an environment where the boundaries between professional and personal roles often overlap, potentially increasing stress and emotional fatigue. This study aims to examine the relationship between Work-Life Integration (WLI) and burnout among Gen-Z employees in Indonesia. This research used a quantitative approach with a correlational design. A total of 235 Gen-Z employees participated in this study, selected using purposive sampling. Data were collected online using two instruments: the Work-Life Boundary Enrichment Scale (WLBES) to measure WLI and the Burnout Assessment Tool (BAT) to measure burnout. Data were analyzed using Pearson’s correlation through SPSS. The results indicate that, overall, there is no significant relationship between WLI and burnout among Gen-Z employees. However, a weak but significant positive correlation was found in the exhaustion dimension (r = 0.147; p = 0.024), suggesting that higher levels of work–life integration may be associated with increased emotional fatigue in some individuals. This finding implies that WLI is not always a protective factor against burnout. For certain employees, blurred boundaries between work and personal life may contribute to added strain if not managed effectively. ABSTRAK Fenomena meningkatnya tekanan kerja pada karyawan Gen-Z menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja dan perkembangan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan psikologis. Generasi ini hidup dalam pola kerja digital yang cenderung membuat batas antara peran profesional dan kehidupan pribadi menjadi kabur sehingga berpotensi memicu stres dan kelelahan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Work-Life Integration (WLI) dan burnout pada karyawan Gen-Z di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 235 karyawan Gen-Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan dua alat ukur, yaitu Work-Life Boundary Enrichment Scale (WLBES) untuk mengukur WLI dan Burnout Assessment Tool (BAT) untuk mengukur burnout. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson melalui SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara WLI dan burnout pada karyawan Gen-Z. Namun, ditemukan hubungan positif lemah dan signifikan pada dimensi exhaustion (r = 0.147; p = 0.024), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi integrasi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, sebagian responden justru mengalami peningkatan rasa lelah secara emosional. Temuan ini mengindikasikan bahwa WLI tidak selalu menjadi faktor protektif terhadap burnout, dan bagi sebagian individu, integrasi peran yang tidak terkelola dengan baik dapat memicu kelelahan tambahan.
Copyrights © 2026