Rumah sehat merupakan determinan penting kesehatan masyarakat karena kualitas fisik bangunan, sanitasi dasar, dan perilaku penghuni memengaruhi risiko penyakit berbasis lingkungan. Secara nasional, masih terdapat proporsi besar rumah tangga yang tinggal di hunian tidak layak, sehingga pemetaan kondisi rumah sehat di tingkat lokal diperlukan sebagai dasar intervensi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan survei pemenuhan kriteria rumah sehat pada rumah tangga di Desa Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Metode yanng digunakan dalam penelitian ini berupa observasional deskriptif dengan desain potong lintang pada 15 rumah (purposive sampling) selama 10 Agustus–20 September 2025. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara menggunakan checklist penilaian rumah sehat mengacu pada SK Menkes No. 829/Menkes/SK/VII/1999. Skor total dikategorikan memenuhi syarat (1068–1200) dan tidak memenuhi syarat (<1068). Dari 15 rumah, 1 rumah (6,7%) memenuhi syarat rumah sehat dan 14 rumah (93,3%) tidak memenuhi syarat. Kekurangan dominan ditemukan pada komponen fisik (terutama ventilasi dan pencahayaan), sanitasi dasar (air bersih, jamban, SPAL, dan pengelolaan sampah), serta perilaku penghuni yang belum konsisten mendukung kebersihan lingkungan rumah. Mayoritas rumah belum memenuhi kriteria rumah sehat sehingga diperlukan intervensi bertahap yang memadukan perbaikan fisik rumah dan sanitasi dengan edukasi perilaku berbasis komunitas untuk menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Healthy Home Assessment Survey in Lembar Village, Lembar District, West Lombok Regency Abstract Healthy housing is an important determinant of public health because the physical condition of the building, basic sanitation, and residents’ behaviors influence the risk of environment-related diseases. Nationally, a large proportion of households still live in substandard housing; therefore, mapping healthy housing conditions at the local level is needed as a basis for intervention. This study aimed to survey compliance with healthy house criteria among households in Lembar Village, West Lombok Regency. The method used was an observational descriptive study with a cross-sectional design involving 15 houses (purposive sampling) conducted from 10 August to 20 September 2025. Data were collected through observation and interviews using a healthy house assessment checklist referring to the Indonesian Ministry of Health Decree No. 829/Menkes/SK/VII/1999. Total scores were classified as compliant (1068–1200) or non-compliant (<1068). Of the 15 houses, 1 (6.7%) met the healthy house criteria and 14 (93.3%) did not. The main deficiencies were found in physical components (especially ventilation and lighting), basic sanitation (clean water, latrines, wastewater disposal systems, and solid waste management), and residents’ behaviors that were not consistently supportive of a clean home environment. Most houses did not meet the healthy house criteria, indicating the need for phased interventions that combine improvements in housing and sanitation infrastructure with community-based behavior education to reduce the risk of environment-related diseases.
Copyrights © 2025