Program rehabilitasi rumah pasca-bencana merupakan intervensi krusial, namun evaluasinya seringkali terbatas pada output fisik dan mengabaikan dinamika keberlanjutan jangka panjang. Pendekatan teknokratis ini kerap gagal menangkap kesenjangan persepsi antara tujuan manajerial pelaksana program dengan realitas yang dialami penerima manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika keberlanjutan program RR di Kabupaten Sumbawa Barat dengan membandingkan secara sistematis kedua perspektif tersebut. Menggunakan metode kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 5 pelaksana program dan 10 penerima manfaat, didukung oleh observasi partisipatoris. Temuan menunjukkan adanya keselarasan pada keberhasilan fisik bangunan, namun mengungkap tiga kesenjangan fundamental pada: (1) makna kualitas (standar teknis vs. kenyamanan fungsional), (2) keberlanjutan ekonomi (visi pemberdayaan vs. realitas beban perawatan), dan (3) makna partisipasi (formalistik vs. substantif). Kesenjangan ini berakar pada perbedaan fokus: pelaksana berorientasi pada output, sementara penerima manfaat berorientasi pada outcome. Simpulan menegaskan bahwa keberlanjutan yang holistik menuntut pergeseran dari model intervensi teknis menuju kemitraan transformasional yang secara aktif menjembatani kesenjangan persepsi melalui dialog dan partisipasi yang substantif. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas diskursus evaluasi pasca-bencana dari sekadar metrik teknis menuju perspektif sosio-psikologis, menempatkan persepsi subjektif penerima manfaat sebagai indikator keberhasilan yang setara dengan standar struktural. Sustainability Dynamics of a Housing Rehabilitation Program: A Dual Perspective Analysis from West Sumbawa Abstract Post-disaster housing rehabilitation (RR) programs are crucial interventions, yet their evaluations are often limited to physical outputs, neglecting long-term sustainability dynamics. This technocratic approach frequently fails to capture the perception gaps between the managerial objectives of program implementers and the lived realities of beneficiaries. This study aims to analyze the sustainability dynamics of an RR program in West Sumbawa Regency by systematically comparing these two perspectives. Employing a qualitative case study methodology, data were collected through in-depth interviews with 5 program implementers and 10 beneficiaries, supported by participant observation. Findings indicate a consensus on the physical success of the buildings but reveal three fundamental perception gaps concerning: (1) the meaning of quality (technical standards vs. functional comfort), (2) economic sustainability (empowerment vision vs. the reality of maintenance burdens), and (3) the meaning of participation (formalistic vs. substantive). These gaps are rooted in a core difference in focus: implementers are output-oriented, whereas beneficiaries are outcome-oriented. The study concludes that holistic sustainability requires a shift from a technical intervention model to a transformational partnership that actively bridges these perception gaps through dialogue and substantive participation. This study makes a theoretical contribution by expanding the discourse on post-disaster evaluation from mere technical metrics to a socio-psychological perspective, positioning the subjective perceptions of beneficiaries as success indicators equivalent to structural standards.
Copyrights © 2025