Pemahaman terhadap karya sastra dapat dilakukan bila terdapat 'kongenialitas' yakni kesamaan sikap emotif antara sang seniman yang menuangkan keindahan dalam karya-karyanya dengan si pengamat yang mencoba menikmati keindahan tersebut. Sampai batas-batas tertentu karya sastra mengungkapkan nilai-nilai realitas hidup. Novel the Scarlet Letter sangat kental mencerminkan nilai-nilai religius. Data diambil dari novel the Scarlet Letter karangan Nathaniel Hawthorne berupa pengamatan atau observasi dan studi kepustakaan terhadap percakapan ketiga tokoh utama, sedangkan teori yang digunakan adalah teori sastra dan religiositas gagasan Mangunwijaya (1982). Dalam analisis terungkap bahwa sikap religius pada diri seseorang tidak hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang saja, tetapi bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Sikap religius tercermin dalam novel the Scarlet Letter mencakup tiga konsep pikiran yakni: 1) Sikap religius sebagai bagian dari Eksistensialisme terdapat pada tokoh Hester Prynne, Roger Chillingworth dan Arthur Dimmesdale; 2) Sikap religius sebagai hasil dari kualitas berpikir religius terdapat pada tokoh Arthur Dimmesdale dan Hester Prynne; dan 3) Sikap religius sebagai jawaban terhadap masalah terdalam manusia pada tokoh Arthur Dimmesdale. Untuk mengungkapkan sikap religius di dalam novel yang dikaji terkait dengan agama Puritan karena agama tersebut sangat berpengaruh dalam alur cerita dan latar novel ini. Demikian pula terungkap pada prilaku tokoh-tokoh utamanya yakni Dinmesdale, Hester dan Chillingworth pada masalah yang dihadapi dan pemenuhan kebutuhan eksistensialnya, kepahitan pada pasangan hidup dan hubungan terlarang yang terjadi diantara dua tokoh muda dalam novel ini, tetapi ada pengakuan terbuka yang mengakibatkan salah satu tokoh menerima hukuman sesuai tradisi Puritan
Copyrights © 2025