Pesatnya pertumbuhan financial technology (fintech) di Indonesia memunculkan fenomena gagal bayar (galbay) yang dialami debitur akibat asimetri literasi finansial. Kerentanan ini dimanfaatkan oleh penyedia jasa "Joki Galbay" melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi wacana persuasif dan struktur dominasi hegemoni yang dibangun oleh penyedia jasa joki dalam mengeksploitasi kondisi psikologis debitur. Menggunakan metode kualitatif studi kasus dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Teun A. van Dijk yang disintesiskan dengan teori retorika Aristoteles, penelitian ini membedah dimensi teks, skema sosial, dan konteks sosial dari wacana di Facebook, TikTok, dan Instagram. Temuan menunjukkan bahwa bahasa digunakan sebagai instrumen kekuasaan yang memanipulasi emosi (pathos) dan logika semu (logos). Joki merekonstruksi citra diri sebagai "penyelamat" (savior) yang memiliki otoritas semu (Ethos), sementara menempatkan debitur dalam posisi subordinat sebagai "korban" yang bergantung. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa AWK efektif membongkar hegemoni digital yang beroperasi melalui strategi manipulasi kognitif (risk reduction) demi keuntungan ekonomi sepihak.
Copyrights © 2025