Jagung dan beras merupakan bahan pangan pokok di Indonesia yang berperan penting dalam ketahanan pangan nasional. Namun, kerusakan pascapanen akibat faktor fisik, kimia, biologi, dan lingkungan masih menjadi masalah serius yang menurunkan kualitas, nilai jual, serta dapat membahayakan kesehatan. Jagung cenderung lebih rentan terhadap serangan jamur seperti Aspergillus flavus yang menghasilkan aflatoksin, sedangkan beras lebih mudah terserang hama gudang seperti Sitophilus oryzae, khususnya pada kondisi lembab dan panas. Kerusakan ini berdampak langsung pada petani di wilayah seperti Bali dan Sulawesi Selatan, yang mengalami kesulitan memenuhi standar mutu dan kehalalan pangan. Metode yang digunakan adalah studi literatur, dengan menelaah jurnal ilmiah, data statistik resmi, serta regulasi pemerintah terkait pangan, halal, dan mutu produk pertanian, yang kemudian didukung oleh studi kasus dari wilayah penghasil utama. Penerapan Good Agricultural Practice (GAP) pada tahap prapanen dan pascapanen menjadi strategi penting untuk meminimalkan kerusakan, meliputi rotasi tanaman, pengelolaan lahan dan pupuk, pemilihan varietas tahan hama/jamur, pengeringan yang tepat, penggunaan wadah bersih, penyimpanan berventilasi, serta pengemasan vakum untuk beras. Penyuluhan kepada petani mengenai praktik penyimpanan dan pengendalian hama juga diperlukan agar hasil panen tetap aman, berkualitas, dan halal. Penanganan pascapanen yang baik, didukung regulasi pemerintah terkait pangan dan halal, mampu menekan kerugian ekonomi, meningkatkan mutu, dan menjamin keamanan serta kehalalan produk bagi konsumen.
Copyrights © 2025