Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Karakteristik Fisikokimia pada Minyak dan Lemak dari Sumber Nabati Hewani Khafiza, Salma Rukhiatul; Aliffia, Nadira; Krisman, Wija; Putri, Nayla Ayu Mulya; Nuraisyah, Sulistina Hasya; Fadillah, Refal Maulana; Azis, Abrar Ghani; Nurlaela, Raden Siti; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 2 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i2.17171

Abstract

Minyak dan lemak merupakan komponen esensial yang berfungsi sebagai sumber energi dan nutrisi. Sebagai senyawa trigliserida yang termasuk dalam golongan lipid, karakteristik fisikokimia dari minyak dan lemak sangat mempengaruhi kesehatan dan kualitas produk pangan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan, pemilihan jenis minyak dan lemak yang tepat menjadi semakin krusial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fisikokimia dari minyak dan lemak yang bersumber dari nabati (seperti kelapa, jagung, sawit, dan kedelai) dan hewani (seperti lemak hewan dan margarine). Metode yang digunakan meliputi pengujian sifat fisik seperti warna, aroma, serta pengujian sifat kimia termasuk kelarutan, ketidakjenuhan, penyabunan, bau setelah pemanasan, dan ketengikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis minyak dan lemak memiliki karakteristik yang berbeda-beda; misalnya minyak sawit memiliki warna kuning kemerahan akibat kandungan karoten yang tinggi, sementara minyak kelapa cenderung berwarna kuning pucat. Uji kelarutan menunjukkan bahwa semua sampel tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut nonpolar seperti kloroform. Selain itu, pengujian bau menunjukkan bahwa sebagian besar sampel mengalami ketengikan setelah pemanasan, kecuali minyak jagung yang menunjukkan ketahanan lebih baik terhadap oksidasi. Setiap jenis minyak dan lemak memiliki karakteristik unik yang dipengaruhi oleh komposisi asam lemak serta keberadaan pigmen alami. Minyak nabati umumnya menunjukkan sifat yang lebih stabil terhadap oksidasi dibandingkan dengan lemak hewani. Data yang diperoleh diharapkan dapat memberikan wawasan penting mengenai kualitas dan stabilitas minyak serta lemak dalam konteks kegunaannya di industri pangan, kesehatan, dan konsumen dalam memilih produk yang lebih sehat.
Analisis Kualitas Daging Kambing dan Daging Sapi Melalui Uji H2S Chandraningtyas, Widya Firdiani; Aliyah, Siti Nur; Sapitri, Afwina Aulia; Aprila, Reva; Septiani, Siti Dwi; Ramadhani, Nayla Sabilla; Ramadhania, Novia Khansa; Nurlela, Raden Siti; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 3 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i3.17259

Abstract

H2S adalah salah satu uji yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah sampel atau daging tersebut sudah mulai mengalami pembusukan atau tidak, dengan ditandai adanya endapan berwarna coklat. H2S merupakan salah satu senyawa yang dihasilkan dari proses dekomposisi protein oleh aktivitas mikroorganisme pada daging. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kandungan hidrogen sulfida (H2S) pada daging sapi dan kambing sebagai indikator awal kualitas dan kesegaran daging. Sampel daging sapi dan kambing diambil dari pasar tradisional, lalu diuji menggunakan reagen kimia yang spesifik untuk H2S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging kambing didapatkan hasil positif terbentuknya warna coklat pada kertas saring yang menandakan adanya H2S yang dibebaskan, sedangkan daging sapi didapatkan hasil negatif karena tidak terjadi perubahan warna pada kertas saring. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kualitas pada daging kambing, sedangkan daging sapi masih dalam keadaan yang baik. Uji H2S dapat digunakan sebagai metode cepat dan praktis untuk mendeteksi kesegaran daging di lapangan.
Identifikasi Kadar Alkohol dalam Air Nabeez Kurma Tunisia (Phoenix dactylifera L.) dengan Variasi Waktu dan Suhu Penyimpanan Menggunakan Kromatografi Gas Nurlaela, Raden Siti; Hastuti, Arti; Aminah, Siti; Rosmayanti, Dewi; Juniar, Vitri Heriana
Jurnal Ilmiah Pangan Halal Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah Pangan Halal
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jiph.v7i1.16874

Abstract

Air nabeez berpotensi berubah menjadi khamr atau minuman yang memabukan dengan kadar alkohol lebih dari 0.5%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui waktu perendaman kurma serta pengaruh suhu dan waktu penyimpanan terhadap kadar alkohol air nabeez. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, tahap pertama yaitu eksperimental dengan satu faktor yaitu mengetahui waktu perendaman terhadap kadar alkohol dan tahap dua menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yaitu faktor A (suhu penyimpanan) dengan 2 taraf perlakuan A1: 4oC dan A2: 25oC dan faktor B (lama penyimpanan) dengan 3 taraf perlakuan B1: 24 jam, B2: 48 jam, B3: 72 jam. Analisis yang digunakan yaitu kadar gula kurma Tunisia menggunakan metode Luff Schoorl dan kadar alkohol menggunakan kromatografi gas. Hasil penelitian menunjukkan kadar gula kurma Tunisia yang di gunakan adalah 48.58 ±1.39%. Air nabeez yang berasal dari perendaman kurma dengan waktu perendaman 48 jam pada suhu dingin (4oC) kadar alkoholnya adalah 0.36%. Kondisi perendaman ini digunakan untuk memproduksi air nabeez untuk penelitian tahap kedua yaitu tahap penyimpanan air nabeez. Berdasarkan hasil uji ANOVA pada penelitian tahap kedua, suhu dan waktu penyimpanan serta interaksi keduanya pada air nabeez memberikan pengaruh nyata pada kadar alkohol. Air nabeez yang disimpan pada suhu 4oC selama 24 jam kadar alkoholnya 0.475%, sehingga pada kondisi penyimpanan tersebut air nabeez belum terkategori khamr dan masih aman untuk dikonsumsi.
Karakteristik Kimia pada Minuman Matcha Latte dengan Penambahan Kolagen Gusti, Muhammad Barkah; Kusumaningrum, Intan; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 3 No. 10 (2024): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v3i10.15659

Abstract

Salah satu minuman fungsional berbasis teh hijau adalah matcha latte, yang dibuat dari bubuk teh hijau dan susu. Kolagen, yang merupakan protein esensial dalam tubuh manusia, telah menjadi populer sebagai tambahan dalam minuman fungsional untuk meningkatkan nilai gizinya. Tujuan dari penilitian ini untuk menganalisis karakteristik kimia dari minuman matcha latte yang diberi tambahan kolagen. Meode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode RAL atau rancangan acak lengkap dengan satu faktor, yaitu kolagen sapi dengan konsentrasi lima taraf perlakuan: 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Analisis meliputi pengukuran kadar air, abu, lemak, protein, serat, dan karbohidrat. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penambahan kolagen mempengaruhi karakteristik kimia matcha latte, dengan perlakuan terbaik pada penambahan 25% kolagen dan 75% matcha latte. Komposisi terbaik mencakup kadar air 80,03%, kadar abu 2,06%, lemak 4,78%, serat 3,78%, protein 8,27%, dan karbohidrat 4,82%.
Identifikasi Kualitas dari Tiga Jenis Minyak Nabati: Sawit, Jagung dan Kedelai Putri, Arlita Nada; Firdaus, Ashila Maziyya Fairuz; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 5 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i5.17390

Abstract

Minyak dan lemak merupakan suatu bahan yang mempunyai  senyawa ester non polar dan tidak dapat larut dalam air  yang berasal dari hewan dan tanaman. Jika dibandingkan dengan karbohidrat dan protein kandungan dalam minyak dan lemak lebih besar sekitar 2% yaitu 9 kkal/gram. Bahan pangan pastinya memiliki kandungan yang berbeda dari setiap jenis  minyak dan lemak. Tujuan dilakukannya pengujian ini adalah untuk mengetahui mutu minyak dan bagaimana penyimpanan yang baik terhadap beberapa jenis minyak. Dilakukan tiga pengujian yaitu uji kelarutan, uji saponifikasi dan uji ketengikan. Uji kelarutan yaitu dengan memberikan bahan dengan pelarut polar dan non polar. Uji saponifikasi yaitu sampel diberi aquades dan NaOH beralkohol. Uji ketengikan yaitu sampel dimasukkan ke dalam tempat yang sudah diberikan CaCO3 dan kertas saring yang dicelup terlebih dahulu ke dalam phloroglusinol. Ketiga bahan seperti minyak sawit, minyak jagung dan minyak kedelai menandakan hasil yang sama. Hasil uji kelarutan seluruh sampel larut pada pelarut non polar, sementara uji saponifikasi seluruh bahan memiliki busa yang sedikit dan untuk uji ketengikan seluruh sampel negatif tengik. Minyak menandakan positif baik atau dapat digunakan.
Penetapan Sifat Fisik Susu melalui Pengujian Pembentukan Film dan Kasein Rahayu, Melda Putri; Eriani, Gita Nur; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 5 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i5.17400

Abstract

Kualitas dari susu sapi sangat penting untuk penanganan dan produksi susu. Sebelum dilakukan penetapan mutu pada susu, perlu diketahui sifat-sifat fisik susu. Pada pengamatan sifat fisik ini dilakukan dengan dua pengujian. Uji pembentukan film yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya lapisan atau selaput pada susu ketika proses pemanasan, dan uji pengumpulan kasein bertujuan untuk mengetahui adanya protein pada susu. Pengujian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisik antara susu yang masih segar dan susu yang sudah basi. Pengujian ini dilakukan pada dua sampel susu, yaitu susu yang masih  segar dan susu yang sudah basi. Kedua pengujian dilakukan dengan memanaskan kedua sampel sampai terbentuk lapisan atau gumpalan. Pada uji pengumpulan kasein, susu yang diuji ditambahkan rennet yang berfungsi sebagai penggumpal kasein pada susu. waktu pembentukan film pada sampel susu sapi segar yang diuji yaitu 7 menit 15 detik pada suhu 78°C, sedangkan pada sampel susu basi membutuhkan waktu 5 menit 4 detik pada suhu 85°C. Waktu yang dibutuhkan sampai terjadinya pengumpulan kasein pada susu segar yaitu 9 menit 16 detik pada suhu 85°C, sedangkan susu basi memerlukan waktu 3 menit 57 detik pada suhu 77° C. Hasil pengujian menunjukkan bahwa susu memiliki sifat fisik yang akan mengalami koagulasi dikarenakan adanya pemanasan dan adanya reaksi pada asam. Susu basi akan mengalami denaturasi lebih cepat dibandingkan susu segar karena tingkat keasaman susu basi lebih tinggi daripada susu segar.
Pengembangan Bisnis Produk Mochi Bunga Telang Isian Kacang Bogor Melalui Pendekatan Metode Business Model Canvas Delfitriani; Kartikaratri, Tsaniyah Raihani; Oktavianti, Annisa Putri; Jabbar, Kariem; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 6 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i6.18039

Abstract

Pengembangan bisnis merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah produk. Artikel ini membahas pengembangan bisnis produk Mochi Bunga Telang Isian Kacang Bogor menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC). Hal ini bertujuan untuk merancang strategi bisnis secara efektif untuk meningkatkan daya saing produk serta nilai jual berbasis produk lokal. Melalui analisis sembilan elemen BMC, artikel ini mengidentifikasi segmen pelanggan potensial, proposisi nilai unik, saluran distribusi yang optimal, serta strategi pendapatan dan kemitraan. Hasil kajian menunjukkan bahwa inovasi produk dengan bahan alami seperti bunga telang dan kacang Bogor memiliki peluang pasar yang menjanjikan, terutama dalam tren pangan sehat dan lokal. Dengan penerapan BMC, diharapkan bisnis ini dapat berkembang secara berkelanjutan dan berdaya saing di pasar yang lebih luas.
Pembuatan Beras Analog Berbasis Tepung Sukun Melalui Diversifikasi dan Eksplorasi Sumber Pangan Lain sebagai Solusi untuk Ketahanan Pangan Rabani, Titi Fania; Nurlaela, Raden Siti; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 6 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i6.18182

Abstract

Makanan utama orang Indonesia adalah beras. Kebutuhan beras akan meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Jika kebutuhan beras tersebut tidak dapat dipenuhi, ketahanan pangan nasional akan terancam. Pemerintah mendorong diversifikasi pangan untuk menghindari masalah ini. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk beras analog, untuk mengetahui seberapa baik produk yang dibuat dengan mengubah tepung sukun menjadi beras analog, mengurangi waktu pemrosesan, meningkatkan kadar air dan abu, dan melakukan uji proksimat, hedonik, dan analisis kualitas organoleptik. Diharapkan bahwa pengembangan beras analog ini akan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dan mengurangi ketergantungan mereka pada sumber makanan konvensional. Akibatnya, penelitian ini membantu menemukan sumber makanan lain yang lebih hemat biaya dan ramah lingkungan.
Inovasi Beras Analog Berbasis Tepung Sukun: Solusi Alternatif untuk Ketahanan Pangan dan Diversifikasi Produk Pangan Lokal Putri, Cantyka Meisa Nurul; Hastuti, Arti; Novidahlia, Noli
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 6 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i6.18239

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana pembuat beras serupa, yang merupakan bahan utama dari tepung sukun, dipengaruhi oleh konsentrasi tepung tapioka. Untuk diversifikasi dan subsitusi beras, beras analog dapat digunakan. untuk mengatasi produksi beras yang kurang. Dalam proses pembuatan beras yang serupa, proses Penimbangan, pengadukan, pembutiran, dan pemberian air adalah semua prosedur yang sama.Tepung sukun dicampur dengan tepung tapioka dalam penelitian ini pada lima tingkat konsentrasi, masing-masing 0 %, 5 %, 10 %, 15%, dan 20 %. Banyak tepung tapioka yang ditambahkan, kadar air beras yang sebanding dengan meningkat pada perlakuan pertama 7,11%, dan pada perlakuan kelima 7,91%.Semakin banyak tepung tapioka yang ditambahkan, persentase bobot deng dengan diameter butir di bawah 2 milimeter turun.
Pengaruh Penambahan Sari kurma (Phoenix dactylifera) terhadap Aktivitas Antioksidan dan Karakteristik Sensori Susu Pasteurisasu Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) Azis, Abdul; Pertiwi, Sri Rejeki Retna; Hastuti, Arti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 4 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i4.18703

Abstract

Susu pasteurisasi adalah produk susu yang diproses melalui pemanasan selama suhu dan waktu tertentu. Banyak orang telah mencoba menambahkan bahan alami ke dalam susu pasteurisasi. Daun kelor dan kurma merupakan sumber antioksidan alami. Sari kurma memiliki rasa manis yang terdiri atas karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari kurma terhadap aktivitas antioksidan dan karakteristik sensori susu pasteurisasi ekstrak daun kelor. Penelitian terbagi menjadi dua tahapan yaitu pembuatan ekstrak daun kelor dan sari kurma, kemudian pembuatan susu pasteurisasi ekstrak daun kelor yang ditambahkan sari kurma dengan konsentrasi 0%, 5%, 10, dan 15%. Penambahan sari kurma dapat meningkatkan aktivitas antioksidan. Hasil aktivitas antioksidan produk konsentrasi 0% (183,35 ppm) kategori sedang, 5% (152,11 ppm) kategori sedang, 10% (99,31 ppm) kategori kuat, serta 15% (66,36 ppm) kategori kuat. Penambahan sari kurma berpengaruh pada mutu sensori rasa, aroma, dan warna. Tetapi tidak berpengaruh terhadap hedonik warna. konsentrasi 10% merupakan produk terbaik dengan hasil penilaian rasa manis dan aroma kurma mengarah kuat, sedangkan aroma susu, aroma kelor, dan rasa pahit mengarah lemah, serta warna mengarah kecoklatan. Hasil hedonik panelis secara overall mengarah sangat suka.