Santriwati yang tinggal di pesantren lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya daripada keluarga, dalam lingkungan sosial yang memiliki hierarki, aturan komunikasi perempuan, dan budaya diam sebagai bentuk kesopanan. Hal ini membuat friendship quality menjadi aspek penting, sementara perilaku silent treatment bisa dianggap wajar secara sosial meski berdampak negatif pada hubungan. Dalam konteks pesantren, silent treatment dipahami sebagai pengabaian atau sengaja tidak merespons teman untuk menyampaikan ketidaknyamanan atau ketidaksetujuan. Penelitian ini meneliti pengaruh silent treatment terhadap friendship quality dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Sebanyak 398 santriwati dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi McGill Friendship Questionnaire–Friend’s Function dan skala Silent Treatment yang dikembangkan berdasarkan dimensi ostracism. Hasil regresi linear sederhana menunjukkan hubungan negatif signifikan antara silent treatment dan friendship quality (B = -0.854, β = -0.718, t = -20.550, p < 0.001, 95% CI [-0.937, -0.771]), dengan R² sebesar 0.516. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin sering silent treatment terjadi, friendship quality yang dirasakan semakin rendah, meskipun faktor lain masih turut memengaruhi. Karena desain penelitian bersifat korelasional, hasil hanya menunjukkan hubungan, bukan hubungan sebab-akibat.
Copyrights © 2026