Penalaran aljabar merupakan kemampuan penting dalam penyelesaian soal non-rutin, namun proses ini sering terhambat oleh kecemasan matematika (math anxiety). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan variasi kualitas pemenuhan indikator penalaran aljabar pattern seeking, pattern recognizing, dan generalization pada siswa dengan tingkat state anxiety dan trait anxiety yang berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus jamak (multiple-case study) untuk memungkinkan perbandingan lintas kategori kecemasan. Partisipan penelitian terdiri atas 50 siswa kelas VII MTs yang diberikan angket School Mathematics Anxiety Questionnaire (SMAQ). Berdasarkan skor dominan state atau trait anxiety dan kategori tingkat kecemasan (tinggi, sedang, rendah), dipilih enam subjek secara purposif sebagai kasus tipikal, masing-masing mewakili setiap kombinasi kategori. Data dikumpulkan melalui satu soal aljabar non-rutin bersifat terbuka (open-ended) yang menuntut pemodelan, verifikasi, dan generalisasi, serta wawancara berbasis tugas semi-terstruktur. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan pengodean berbasis rubrik tiga tingkat. Keandalan pengodean diperkuat melalui kesepakatan antar-rater dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek dengan math anxiety tinggi cenderung berhenti pada tahap identifikasi pola awal dan menunjukkan kesalahan manipulasi simbolik, sehingga indikator pattern recognizing dan generalization belum terpenuhi. Subjek dengan kecemasan sedang mampu membangun model aljabar yang tepat, namun verifikasi dan generalisasi masih terbatas. Subjek dengan kecemasan rendah menunjukkan pemenuhan ketiga indikator secara lebih konsisten. Temuan ini mengindikasikan adanya keterkaitan antara tingkat math anxiety dan variasi kualitas penalaran aljabar dalam konteks penyelesaian soal non-rutin, dengan batasan pada generalisasi hasil karena sifat studi kasus.
Copyrights © 2025