Penelitian ini bertujuan mengkaji pentingnya landasan sosiokultural dan multikultural dalam praktik bimbingan dan konseling di Indonesia, dengan menyoroti tantangan dekolonisasi pengetahuan serta integrasi kearifan lokal sebagai dasar layanan konseling yang kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka dan studi lapangan eksploratif. Data diperoleh dari publikasi ilmiah yang relevan dengan konseling multikultural, landasan sosiokultural, dan dekolonisasi pengetahuan, serta analisis konteks budaya masyarakat Magetan, Indonesia. Data dianalisis secara interpretatif untuk mengidentifikasi tema dan implikasi terhadap praktik konseling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi paradigma konseling Barat yang bersifat individualistik sering kali kurang selaras dengan nilai kolektivitas dan keberagaman budaya di Indonesia. Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, musyawarah, serta penghormatan terhadap tokoh adat dan keluarga berperan penting dalam meningkatkan relevansi, inklusivitas, dan penerimaan layanan konseling. Namun demikian, keterbatasan kompetensi multikultural konselor dan dukungan institusional masih menjadi tantangan utama. Penelitian ini bersifat eksploratif dan terbatas pada satu konteks wilayah, sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan studi empiris dan komparatif di berbagai daerah dengan latar budaya yang berbeda. Temuan penelitian ini mengimplikasikan perlunya penguatan kurikulum pendidikan konselor yang mengintegrasikan kearifan lokal dan kompetensi multikultural, serta peningkatan kolaborasi antara konselor, tokoh adat, dan masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi orisinal dengan menyoroti dekolonisasi pengetahuan dalam praktik bimbingan dan konseling di Indonesia serta menawarkan perspektif konseling berbasis kearifan lokal yang masih terbatas dibahas dalam kajian akademik.global.
Copyrights © 2026