Pendidikan sejarah tidak semata-mata bertujuan menanamkan hafalan peristiwa masa lalu, tetapi membuka ruang reflektif bagi peserta didik untuk memahami dinamika sosial, politik, dan budaya yang membentuk identitas kolektif. Artikel ini menyoroti urgensi pendekatan pendidikan sejarah sebagai aksi kritis yang mampu membekali siswa dengan kemampuan berpikir historis, kesadaran etis, dan keberanian untuk mempertanyakan narasi dominan. Melalui pembelajaran sejarah yang dialogis dan kontekstual, peserta didik diajak untuk tidak hanya membaca masa lalu sebagai fakta beku, tetapi menulis masa depan dengan sikap kritis, empatik, dan visioner. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan studi pustaka dan analisis kurikulum sebagai metode utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi pedagogi kritis dalam pendidikan sejarah mampu menciptakan ruang belajar yang demokratis dan transformatif. Sejarah diposisikan bukan sebagai instrumen legitimasi kekuasaan, melainkan sebagai medan dialektika dan pembebasan. Oleh karena itu, guru sejarah memegang peran strategis sebagai fasilitator kesadaran, bukan sekadar penyampai materi. Pendidikan sejarah yang demikian akan memungkinkan lahirnya generasi yang tidak hanya tahu tentang masa lalu, tetapi mampu mengartikulasikan masa depan secara lebih adil dan inklusif.
Copyrights © 2025