Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Ethical Policy and The Emergence Of Indonesian Nationalism 1908-1919 in The High School History Textbooks For Grade XI Sudarmaji, Arif Krisna; Abidin, Rahman
HISTORIKA Vol 22, No 2 (2019): Wajah Nasionalisme Indonesia
Publisher : Sebelas Maret University (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.182 KB) | DOI: 10.20961/historika.v22i2.38138

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the values of nationalism in Indonesian History textbooks in class XI. Issues raised include: (1). How nationalism can emerge in Indonesia. (2). How the influence of nationalism itself for the Indonesian people. The research method used is critical discourses analysis, which is analyzing discourse contained in Indonesian History textbooks. The approach used is the theory of nationalism E.J. Hobsbawm. Nationalism develops through three phases, ethnolinguistic nationalism, xenophobia, passionate ethnocentrism. The results of the study show that nationalism emerged as a response to Dutch colonialism and imperialism. Emerging local elites were enlightened as a result of the ethical politics of the early 20th century. Many movement organizations were formed, including the Indische Partij, which provided the essential foundation for Indonesian ideas as inspiration for the emergence of the conception of the awareness of modern Indonesian nationhood in 1928.
SOCIAL STUDIES (PIPS) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SOCIAL RESPONSIBILITY DAN SOCIAL SKILLS PESERTA DIDIK DI TENGAH GLOBALISASI Rahman Abidin
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v1i2.524

Abstract

Secara kelembagaan, kurikulum Pendidikan IPS harus disesuaikan dengan tantangan global, intensitas forum akademik ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Pada level kelas, pengajar perlu meningkatkan kapasitasnya melalui pelatihan dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran yang bermakna sebagai upaya menghasilkan good citizen dapat terwujud. Pada era globaliasi banyak efek yang meresap dalam saraf kehidupan. Efek tersebut menimbulkan masalah sosial seperti individualistis, egoistis, kurang dapat berkomunikasi secara efektif, rendahnya empati, kurangnya rasa tanggung jawab, tingkat disiplin rendah, kurang bekerjasama dan berinteraksi didalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan IPS mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan tanggung jawab sosial dan keterampilan sosial peserta didik, dengan begitu peserta didik diharapkan dapat hidup secara lebih fungsional dan bermakna di era globalisasi.
PERSEPSI SISWA TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS MOBILE MATERI PERDAGANGAN ANTARPULAU SUMATERA DAN JAWA ABAD KE 13-16 MASEHI DI SMK TELENIKA PALEMBANG Rahman Abidin
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 1 No. 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Jambi University, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.429 KB)

Abstract

Persepsi adalah suatu proses kegiatan yang didasari dari hasil pengamatan seseorang terhadap suatu objek yang diamati berupa tanggapan yang disampaikan dalam bentuk lisan ataupun tulisan serta dapat mempengaruhi nilai suatu objek yang diamati. Persepsi siswa sangatlah penting untuk dapat diketahui dalam sebuah penilaian. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah persepsi siswa terhadap model pembelajaran sejarah berbasis mobile materi perdagangan antarpulau Sumatera dan Jawa abad ke13-16 masehi di kelas 10 Sekolah Menengah Kejuruan Telenika Palembang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi siswa terhadap model pembelajaran sejarah berbasis mobile materi perdagangan antarpulau Sumatera dan Jawa abad ke13-16 masehi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan angket. Teknik Aalisis Data menggunakan Analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini didapatkan data persepsi siswa dengan rata-rata persentase yaitu 95,63%, dilihat dari ketiga indikator yaitu menerima, memahami dan menilai atau respon menunjukkan bahwa persepsi siswa memilih setuju dan sangat setuju dengan kategori sangat baik. Dengan demikian, model pembelajaran sejarah berbasis mobile dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih efektif dan mudah diterima siswa guna pencapaian hasil belajar yang lebih baik dan lebih maksimal.
MINI HISTORIOGRAPHY IN SCHOOL: ENCOURAGING STUDENTS TO BECOME YOUNG HISTORIANS Abidin, Rahman
KRONIK : Journal of History Education and Historiography Vol 9 No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/kjhi.v9i1.42964

Abstract

History education has tended to focus on the transmission of a single narrative that is factual and chronological in nature, thus ignoring the critical and constructive dimensions of the historical thought process. This article proposes a mini-historiography approach as an innovative learning strategy that encourages students to not just memorize events, but to actively construct historical narratives based on data, sources, and interpretations. Through the practice of mini historiography, students are invited to trace traces of local history, conduct field observations, interviews, and document analysis, which are then constructed in the form of historical writings or presentations. This approach not only improves critical thinking skills, historical literacy, and empathy, but also provides space for students to play the role of knowledge producers, not just consumers. This study uses a qualitative study method with classroom observation and analysis of student documents in three high schools in South Sumatra. The results show that mini historiography is able to arouse students' enthusiasm, enrich their understanding of the local historical context, and strengthen cultural identity. In addition, this approach challenges the dominance of large national narratives that often marginalize community history. By involving students as young historians, history education becomes more democratic, contextual, and meaningful. This article recommends the integration of mini-historiography into the history curriculum as a strategic step in building a generation that is historically literate and reflective of the past.
Analisis Work Engagement Karyawan sebagai Program Kerja Mahasiswa Magang di PT. Baruga Asrinusa Development Marwani Saputri; Rahman Abidin; Widyastuti; Nur Akmal
Gudang Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): GJPM - Januari
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjpm.v4i1.1901

Abstract

Work engagement merupakan salah satu aspek penting yang mencerminkan keterlibatan karyawan secara fisik, emosional, dan kognitif dalam pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tingkat work engagement karyawan PT. Baruga Asrinusa Development pada tiga dimensi utama, yaitu vigor, dedication, dan absorption. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh karyawan produksi yang berjumlah 45 orang, dengan penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) versi Indonesia yang terdiri dari tiga dimensi penilaian. Analisis data menggunakan statistik deskriptif melalui IBM SPSS untuk melihat nilai rata-rata, standar deviasi, dan persentase masing-masing dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat work engagement karyawan berada pada kategori sedang–tinggi, dengan nilai rata-rata skor total sebesar 46,53. Dimensi dedication menjadi aspek yang paling dominan, sedangkan vigor berada pada kategori moderat. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa karyawan memiliki keterlibatan emosional dan kognitif yang cukup baik dalam menjalankan pekerjaan, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan pada aspek energi dan ketahanan kerja. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam merancang strategi pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan keterikatan kerja secara optimal.
MEMBACA MASA LALU, MENULIS MASA DEPAN: PENDIDIKAN SEJARAH SEBAGAI AKSI KRITIS Abidin, Rahman; Agustina, Ema
Danadyaksa Historica Vol 5, No 2 (2025): Danadyaksa Historica
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jdh.v5i2.10393

Abstract

Pendidikan sejarah tidak semata-mata bertujuan menanamkan hafalan peristiwa masa lalu, tetapi membuka ruang reflektif bagi peserta didik untuk memahami dinamika sosial, politik, dan budaya yang membentuk identitas kolektif. Artikel ini menyoroti urgensi pendekatan pendidikan sejarah sebagai aksi kritis yang mampu membekali siswa dengan kemampuan berpikir historis, kesadaran etis, dan keberanian untuk mempertanyakan narasi dominan. Melalui pembelajaran sejarah yang dialogis dan kontekstual, peserta didik diajak untuk tidak hanya membaca masa lalu sebagai fakta beku, tetapi menulis masa depan dengan sikap kritis, empatik, dan visioner. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan studi pustaka dan analisis kurikulum sebagai metode utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi pedagogi kritis dalam pendidikan sejarah mampu menciptakan ruang belajar yang demokratis dan transformatif. Sejarah diposisikan bukan sebagai instrumen legitimasi kekuasaan, melainkan sebagai medan dialektika dan pembebasan. Oleh karena itu, guru sejarah memegang peran strategis sebagai fasilitator kesadaran, bukan sekadar penyampai materi. Pendidikan sejarah yang demikian akan memungkinkan lahirnya generasi yang tidak hanya tahu tentang masa lalu, tetapi mampu mengartikulasikan masa depan secara lebih adil dan inklusif.
Social Science Learning Model for Early Childhood Based on Digital Wayang Golek to Enhance Social Awareness Hurri, Ibnu; Abidin, Rahman; Wirawan, Gandung
JURNAL PENDIDIKAN USIA DINI Vol 20 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Usia Dini Volume 20 Number 1 April 2026
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Anak Usia Dini

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/jpud.v20i1.63193

Abstract

This research seeks to create and evaluate the efficacy of a social studies learning model for early childhood education (PAUD) rooted in local wisdom through digital puppetry to enhance social awareness in young children. This methodology aims to include Sundanese cultural values using puppet figures and narratives delivered in an interactive digital format. The study employs a Research and Development (R&D) methodology encompassing needs analysis, model creation, expert validation, and both restricted and large field testing. We gathered data through observation, interviews, documentation, and analysis of children's prosocial behavior during the educational process. The study's findings reveal that using digital puppets significantly improves children's ability to demonstrate empathy, share, support peers, collaborate, and resolve minor conflicts. Educators appreciate the ease of conveying social studies content that was once abstract, since digital media facilitates the presentation of a tangible and engaging social context. The digitization of wayang golek has demonstrated its efficacy in revitalizing indigenous wisdom while addressing the demand for technology-based education in early childhood development (PAUD). This study highlights that the amalgamation of culture and technology in social studies learning is a relevant strategy to build children's social character from an early age.
TRANSFORMING LEARNING AT IJEN GEOPARK BONDOWOSO: A DEEP LEARNING APPROACH INTEGRATING SCIENCE, ECOLOGY, AND CULTURE IN THE MERDEKA CURRICULUM: Transformasi Pembelajaran Ijen Geopark Bondowoso: Pendekatan Deep learning yang Menghubungkan Sains, Ekologi, dan Budaya dalam Kurikulum Merdeka Gandung Wirawan; Rahman Abidin
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 10 No 2 (2026): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v10i2.6801

Abstract

This study aims to examine the use of Ijen Geopark in Bondowoso, East Java as a learning space that supports deep learning within the implementation of the Merdeka Curriculum. Despite its strong potential, the educational use of geoparks is often limited, fragmented, and still dominated by tourism and conservation perspectives, with few studies explaining how geoparks function pedagogically to facilitate deep learning in school contexts. The geopark, consisting of geosites, biosites, and cultural sites, is therefore explored as a living laboratory that integrates science, ecology, and culture. This research employed a qualitative case study approach. Data were collected through field and classroom observations, in-depth interviews with teachers, students, and geopark managers, as well as document analysis, and were analyzed thematically through coding and categorization processes. The findings show that geopark-based learning strengthens students’ critical thinking, ecological awareness, collaboration, and meaningful conceptual understanding. In addition, learning activities encourage interdisciplinary connections and authentic learning experiences relevant to the Merdeka Curriculum. However, several challenges were identified, including unequal teacher readiness, limited facilities at some learning sites, and logistical constraints. In conclusion, Ijen Geopark has strong potential to function as a sustainable living laboratory that supports deep learning and interdisciplinary education. This study contributes to the development of a practical model of geopark-based deep learning and emphasizes the need for stronger institutional, pedagogical, and infrastructural support to optimize its implementation.
Sejarah Lingkungan sebagai Konten Digital Edukatif: Strategi Pedagogis untuk Menumbuhkan Kesadaran Ekologis Siswa Rahman Abidin
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 7 No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v7i2.7719

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sejarah lingkungansebagai konten digital edukatif dalam menumbuhkan kesadaran ekologis siswamelalui strategi pedagogis berbasis project-based learning dan digitalstorytelling di Kota Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan mixedmethods dengan desain sekuensial eksplanatori. Subjek penelitian melibatkansiswa kelas X dan XI SMA dengan teknik purposive sampling. Data kuantitatifdiperoleh melalui pretest dan posttest kesadaran ekologis, sedangkan datakualitatif dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis proyek digitalsiswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kesadaranekologis siswa setelah implementasi pembelajaran, terutama pada dimensi sikapekologis, diikuti oleh pengetahuan dan perilaku. Pemanfaatan konten digitalberupa video dokumenter, arsip visual, dan peta interaktif sejarah lingkunganSurabaya terbukti meningkatkan keterlibatan belajar, kemampuan berpikir kritis,serta empati ekologis siswa. Strategi project-based learning berbasis digitalstorytelling mendorong siswa menjadi subjek aktif dalam merekonstruksi sejarahlingkungan wilayahnya. Meskipun terdapat hambatan berupa keterbatasanakses teknologi dan literasi digital, pembelajaran ini tetap menunjukkan dayatransformasi pedagogis yang kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasisejarah lingkungan dan teknologi digital merupakan pendekatan strategis untukmembangun kesadaran ekologis siswa secara reflektif, kritis, dan berkelanjutan.
Exploring Critical and Ethnopedagogical Dimensions in Living Museums: Ethnographic Perspectives in Cultural Education Practices Rahman Abidin; Nana Supriatna; Didin Saripudin; Leli Yulifar
JETL (Journal of Education, Teaching and Learning) Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Number 2 September 2024
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jetl.v9i2.5829

Abstract

Living museum is a concept that integrates direct experience with cultural and historical learning. This article explores the critical and ethnopedagogical dimensions in living museum practices with a focus on ethnographic perspectives in cultural education. Through a qualitative approach that includes participant observation, in-depth interviews, and document analysis, this study aims to understand how living museums can function as educational spaces that not only present history, but also encourage critical thinking and cultural reflection among visitors. This study identifies that living museums provide a platform for interactive dialogue between visitors and the cultural practices presented. In this context, living museums are not only places to display artifacts, but also arenas for knowledge exchange that involve community members in the educational process. This study highlights how an ethnopedagogical approach, involving guides as cultural stakeholders, can deepen visitors' understanding of cultural heritage and history. The findings of this study suggest that living museums can function as tools for critical thinking and cultural education, by encouraging visitors to reflect on the social and historical contexts of the artifacts they see. In addition, this study shows that living museums that successfully integrate ethnopedagogical approaches can create immersive and sustainable experiences for visitors, which go beyond mere historical education to embrace broader discussions about cultural identity and social values.