Studi ini menganalisis kegagalan program ekspor sapu glagah di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto menggunakan kerangka Total Quality Management (TQM) sebagai alat diagnostik. Program yang memiliki potensi signifikan ini dihentikan setelah hanya dua pengiriman karena masalah kualitas. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan petugas pemasyarakatan, narapidana, dan mitra kerja sama eksternal, serta melalui analisis dokumentasi. Temuan menunjukkan paradoks mendasar: program ini sangat sukses dalam dimensi Pemberdayaan Karyawan, secara efektif memberikan keterampilan, motivasi, dan prospek masa depan kepada narapidana. Namun, program ini gagal secara sistemik dalam dimensi inti TQM lainnya. Penyebab utama kegagalan diidentifikasi dalam Manajemen Kualitas Pemasok, di mana ketergantungan penuh pada mitra eksternal untuk bahan baku menyebabkan masuknya input berkualitas rendah secara konsisten. Hal ini diperparah oleh sistem Manajemen Proses yang rapuh, yang dilanda kurangnya pengawas dan inefisiensi operasional yang kronis. Akibatnya, meskipun memahami fokus pelanggan pada standar ekspor yang ketat, lembaga tersebut tidak mampu memenuhinya secara konsisten, yang menyebabkan tingkat pengembalian yang tinggi dan akhirnya penghentian program tersebut.
Copyrights © 2025