Kajian ini mendiagnosis kegagalan hakikat dalam Pendidikan Islam kontemporer, di mana orientasi kurikulum berbasis standar mewujudkan rasionalitas teknokratis yang secara sistemik mereduksi keutuhan manusia (budi pekerti). Latar belakang penelitian ini adalah ketercerabutan spiritual yang nyata, ditandai oleh dominasi pengukuran kognitif yang mengabaikan dimensi rasa dan karsa. Tujuan fundamental penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dampak instrumental standar terhadap tujuan spiritual, serta merumuskan terapi filosofis berbasis Pendidikan yang Memerdekakan. Menggunakan metode studi kepustakaan analitis-kritis (content analysis mendalam), hasil pembahasan mengungkap bahwa hegemoni standar membelenggu inisiasi batin peserta didik dan mengkhianati peran pemimpin spiritual guru (Ing Ngarsa Sung Tuladha). Rekomendasi teoretis yang diajukan adalah revitalisasi Tri Sentra Pendidikan dan tuntutan agar kebijakan bergeser dari visi kuantitatif (angka) menuju visi kualitatif (watak). Implikasi utama dari temuan ini adalah kebutuhan mendesak untuk mengembalikan budi pekerti sebagai sumbu sentral guna menghindari kelahiran generasi yang cerdas akal namun miskin secara jiwa, sebuah tragedi bagi peradaban.
Copyrights © 2025