Perencanaan perkerasan jalan yang andal penting untuk menjamin umur rencana dan kinerja struktural, terutama pada ruas jalan dengan volume lalu lintas tinggi seperti pada rencana Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi. Penelitian ini memiliki urgensi untuk membandingkan metode desain perkerasan kaku yang mengusung prinsip empiris dan mekanistik empiris terhadap kondisi lapangan di Indonesia, yang memiliki karakteristik iklim tropis dengan curah hujan tinggi serta tanah dasar bervariasi. Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil tebal perkerasan kaku dengan metode AASHTO 1993, Pd T–14–2003, dan Manual Desain Perkerasan 2024 (MDP 2024). Metode penelitian dilakukan menggunakan pedoman desain perencanaan pada tebal slab beton, yaitu AASHTO 1993, Pd T–14–2003, dan MDP 2024. Hasil analisis menunjukkan metode AASHTO 1993 menghasilkan tebal slab 30,00 cm dengan nilai W18 sebesar 31.363.966 ESA, menunjukkan efisiensi struktural tinggi. Metode Pd T–14–2003 memperlihatkan hasil analisis kelelahan dan erosi dengan nilai persentase kerusakan di bawah 100%, menandakan desain yang aman secara struktural. Sementara metode MDP 2024 menghasilkan nilai fatigue 0% dan erosi 92,77%, menandakan ketahanan tinggi terhadap beban berulang dan potensi erosi tanah dasar. Kesimpulannya, metode MDP 2024 paling representatif dan adaptif terhadap kondisi lalu lintas serta lingkungan di Indonesia. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan dasar ilmiah untuk pemilihan metode desain perkerasan kaku dalam konsep empiris maupun mekanistik empiris.
Copyrights © 2025