Perubahan penggunaan lahan merupakan isu strategis dalam perkembangan wilayah perkotaan dan peri-urban akibat meningkatnya kebutuhan ruang untuk permukiman dan kegiatan ekonomi. Kota Pematang Siantar dan kawasan perkotaan Kabupaten Simalungun mengalami tekanan perubahan penggunaan lahan yang signifikan, khususnya pada konversi lahan non-terbangun menjadi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan eksisting, mengidentifikasi faktor pendorong dan pembatas, menganalisis pola spasial perkembangan lahan terbangun, serta menyusun proyeksi perubahan penggunaan lahan di wilayah penelitian. Metode yang digunakan adalah pemodelan spasial berbasis cellular automata yang dikombinasikan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk pembobotan faktor pendorong dan pembatas. Data yang digunakan berupa penutup lahan multiwaktu hasil interpretasi citra satelit, jaringan jalan, pusat kegiatan, serta kebijakan tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode pengamatan terjadi peningkatan signifikan luas lahan terbangun, terutama permukiman dan bangunan industri, yang berasal dari konversi lahan terbuka, semak belukar, tegalan, dan lahan pertanian. Faktor aksesibilitas, khususnya kedekatan dengan jalan utama dan pusat kegiatan, menjadi faktor dominan perkembangan lahan terbangun, sementara tingkat kepatuhan terhadap faktor pembatas masih relatif rendah pada beberapa zona lindung. Pola perkembangan lahan terbangun cenderung menyebar mengikuti koridor jalan utama dan bergerak secara radial dari pusat Kota Pematang Siantar menuju kawasan peri-urban Kabupaten Simalungun. Hasil proyeksi dan uji akurasi model menunjukkan bahwa pendekatan pemodelan yang digunakan mampu merepresentasikan dinamika perubahan penggunaan lahan dengan baik dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi rencana tata ruang serta pengendalian pemanfaatan ruang yang adaptif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025