Ferdiansyah, Ronando
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Model Pengelolaan Pertanian Cabai Merah Untuk Mendukung Hilirisasi Guna Meningkatkan Perekonomian Wilayah Yang Berkelanjutan Di Kabupaten Batu Bara Hanafiah, Arif; Gultom, Parapat; Ferdiansyah, Ronando; Tambunan, Ayu Anggraini
Benefit: Journal of Bussiness, Economics, and Finance Vol. 3 No. 3 (2025): BENEFIT: Journal Of Business, Economics, and Finance
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Publikasi Ilmiah (lppi) Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/benefit.v3i3.1578

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya ketergantungan ekonomi lokal terhadap komoditas cabai merah serta masih terbatasnya nilai tambah yang dihasilkan akibat dominannya pemasaran produk dalam bentuk segar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model pengelolaan pertanian cabai merah dalam mendukung pengembangan hilirisasi produk dan meningkatkan perekonomian wilayah secara berkelanjutan di Kabupaten Batu Bara. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM–PLS) untuk menguji pengaruh pengelolaan pertanian terhadap hilirisasi produk dan perekonomian wilayah berkelanjutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengelolaan pertanian cabai merah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan hilirisasi produk (β = 0,52) dan perekonomian wilayah berkelanjutan (β = 0,47). Selain itu, hilirisasi produk juga berpengaruh signifikan terhadap perekonomian wilayah (β = 0,44) serta terbukti berperan sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara pengelolaan pertanian dan perekonomian wilayah (β = 0,23). Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan budidaya yang baik, apabila diintegrasikan dengan penguatan hilirisasi, mampu menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi dan memperkuat perekonomian wilayah secara berkelanjutan, khususnya pada daerah sentra produksi cabai merah di Kabupaten Batu Bara.
Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun: Faktor Pendorong, Pola, dan Proyeksi Ferdiansyah, Ronando; Gultom, Parapat; Tambunan, Ayu Anggraini; Hanafiah, Arif
Benefit: Journal of Bussiness, Economics, and Finance Vol. 3 No. 3 (2025): BENEFIT: Journal Of Business, Economics, and Finance
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Publikasi Ilmiah (lppi) Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/benefit.v3i3.1579

Abstract

Perubahan penggunaan lahan merupakan isu strategis dalam perkembangan wilayah perkotaan dan peri-urban akibat meningkatnya kebutuhan ruang untuk permukiman dan kegiatan ekonomi. Kota Pematang Siantar dan kawasan perkotaan Kabupaten Simalungun mengalami tekanan perubahan penggunaan lahan yang signifikan, khususnya pada konversi lahan non-terbangun menjadi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan eksisting, mengidentifikasi faktor pendorong dan pembatas, menganalisis pola spasial perkembangan lahan terbangun, serta menyusun proyeksi perubahan penggunaan lahan di wilayah penelitian. Metode yang digunakan adalah pemodelan spasial berbasis cellular automata yang dikombinasikan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk pembobotan faktor pendorong dan pembatas. Data yang digunakan berupa penutup lahan multiwaktu hasil interpretasi citra satelit, jaringan jalan, pusat kegiatan, serta kebijakan tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode pengamatan terjadi peningkatan signifikan luas lahan terbangun, terutama permukiman dan bangunan industri, yang berasal dari konversi lahan terbuka, semak belukar, tegalan, dan lahan pertanian. Faktor aksesibilitas, khususnya kedekatan dengan jalan utama dan pusat kegiatan, menjadi faktor dominan perkembangan lahan terbangun, sementara tingkat kepatuhan terhadap faktor pembatas masih relatif rendah pada beberapa zona lindung. Pola perkembangan lahan terbangun cenderung menyebar mengikuti koridor jalan utama dan bergerak secara radial dari pusat Kota Pematang Siantar menuju kawasan peri-urban Kabupaten Simalungun. Hasil proyeksi dan uji akurasi model menunjukkan bahwa pendekatan pemodelan yang digunakan mampu merepresentasikan dinamika perubahan penggunaan lahan dengan baik dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi rencana tata ruang serta pengendalian pemanfaatan ruang yang adaptif dan berkelanjutan.
Prioritisasi Wilayah Ketahanan Pangan Di Kabupaten Jayawijaya Menggunakan Pendekatan SIG–AHP Tambunan, Ayu Anggraini; Gultom, Parapat; Hanafiah, Arif; Ferdiansyah, Ronando
Benefit: Journal of Bussiness, Economics, and Finance Vol. 4 No. 1 (2026): BENEFIT: Journal Of Business, Economics, and Finance
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Publikasi Ilmiah (lppi) Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/benefit.v4i1.1685

Abstract

Ketahanan pangan merupakan isu strategis di wilayah pegunungan dan daerah dengan keterbatasan infrastruktur, seperti Kabupaten Jayawijaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketahanan pangan antar distrik di Kabupaten Jayawijaya menggunakan pendekatan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP), serta mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang memengaruhi variasi ketahanan pangan secara spasial. Data yang digunakan meliputi indikator ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan, yang diperoleh dari data sekunder dan diolah melalui proses normalisasi serta pembobotan AHP. Nilai IKP dihitung menggunakan metode penjumlahan terbobot dan diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu rendah (0,00–0,33), sedang (0,34–0,66), dan tinggi (0,67–1,00). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IKP 20 distrik di Kabupaten Jayawijaya berada pada rentang 0,28–0,72 dengan nilai rata-rata sekitar 0,51. Sebanyak 4 distrik (20%) tergolong dalam kategori ketahanan pangan rendah, 13 distrik (65%) berada pada kategori sedang, dan 3 distrik (15%) termasuk kategori tinggi. Pembobotan AHP mengindikasikan bahwa indikator produksi pangan dan aksesibilitas, khususnya akses jalan, jarak ke pasar, dan harga pangan, merupakan faktor dominan yang memengaruhi nilai IKP. Distrik dengan ketahanan pangan rendah dicirikan oleh dominasi indikator biaya seperti keterbatasan infrastruktur dan tingginya harga pangan, sementara distrik dengan ketahanan pangan tinggi menunjukkan dominasi indikator manfaat berupa produksi pangan yang lebih baik, aksesibilitas memadai, dan stabilitas harga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketahanan pangan di Kabupaten Jayawijaya masih bersifat tidak merata dan memerlukan strategi kebijakan yang bersifat diferensial dan berbasis wilayah. Pendekatan IKP berbasis AHP terbukti mampu merepresentasikan kompleksitas ketahanan pangan secara kuantitatif dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan serta evaluasi kebijakan ketahanan pangan yang lebih tepat sasaran.