Interoperabilitas Rekam Medis Elektronik (RME) menjadi tantangan utama dalam transformasi digital sektor kesehatan. Meskipun bertujuan meningkatkan efektivitas pengelolaan data pasien dan mutu layanan, implementasinya masih terkendala ketidakcocokan standar data, keterbatasan infrastruktur teknologi, serta kurangnya tenaga ahli. Selain itu, belum adanya regulasi nasional yang jelas menyebabkan sulitnya integrasi data antar fasilitas kesehatan, yang berdampak pada keterlambatan akses informasi medis dan pengambilan keputusan klinis yang kurang optimal. Rumusan masalah dalam penelitian ini menganalisis faktor penghambat interoperabilitas RME, dampaknya terhadap layanan kesehatan, serta strategi untuk meningkatkan integrasi sistem informasi kesehatan. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur terhadap jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan antara 2021–2025 melalui Google Scholar dan SpringerLink. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakcocokan standar data, keterbatasan infrastruktur, serta regulasi yang belum optimal menjadi kendala utama. Selain itu, kurangnya pelatihan tenaga medis dan minimnya tenaga ahli memperlambat adopsi RME. Kesimpulannya, strategi yang diperlukan meliputi standarisasi data, penerapan API terbuka, peningkatan infrastruktur TI, penguatan regulasi, serta pelatihan tenaga medis dan administrator rumah sakit. Dengan strategi yang tepat, sistem RME di Indonesia dapat lebih terintegrasi, meningkatkan efektivitas layanan kesehatan, mempercepat akses informasi medis, serta meningkatkan keamanan dan mutu pelayanan pasien.
Copyrights © 2025