Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi alam dalam tindak pidana lingkungan melalui teks putusan pengadilan dengan pendekatan analisis wacana kritis model Fairlough. Penelitian ini menganalisis tiga putusan hukum yang yang meliputi kasus: pengrusakan hutan mangrove, perdagangan penyu hijau, dan penambangan pasir ilegal. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis wacana kritis Fairlough, meliputi dimensi teks, praktik kewacanaan dan konteks sosial. Hasil penelitian menjunjukkan bahwa ketiga teks putusan didominasi oleh proses material, yang merepresentasikan tindak pidana lingkungan sebagai perbuatan yang nyata dan terukur, pelaku secara sadar melakukan pelanggaran. Lingkungan diposisikan sebagai goal atau objek yang pasif, yang menjadi sasaran kerusakan, seperti air, satwa, udara, dan sumber daya alam. Dimensi praktik kewacanaan menunjukkan bahwa bahasa hukum secara sistematis digunakan untuk menegaskan posisi negara sebagai penegak hukum, dan pelindung kelestarian alam, serta memposisikan pelaku sebagai pihak yang harus bertanggung jawab secara hukum dan moral. Sementara dimensi konteks sosial menunjukkan bahwa wacana hukum tidak lepas dari pengaruh ideologi ekologis, serta relasi kuasa dalam pengelolaan sumber daya alam. Penelitian ini menegaskan bahwa teks hukum tidak bersifat netral, melainkan bagian dari praktik sosial yang mencerminkan dan memproduksi kekuasaan dan nilai masyarakat.This study aims to examine the representation of nature in environmental crimes through court decisions using the Fairclough model of critical discourse analysis. This research method is qualitative with a critical discourse analysis approach. This study analyses three legal decisions covering cases: mangrove forest destruction, green turtle trade, and illegal sand mining. Data collection was conducted through documentation. Data analysis used the Fairclough model of critical discourse analysis, covering the dimensions of text, discursive practice, and social context. The results of the study show that the three decision texts are dominated by material processes, which represent environmental crimes as real and measurable actions in which perpetrators consciously commit violations. The environment is positioned as a passive goal or object, which is the target of damage, such as water, animals, air, and natural resources. The discursive practice dimension shows that legal language is systematically used to emphasise the position of the state as a law enforcer and protector of environmental sustainability, as well as positioning the perpetrators as parties who must be legally and morally responsible. Meanwhile, the social context dimension shows that legal discourse is inseparable from the influence of ecological ideology, as well as power relations in the management of natural resources. This research confirms that legal texts are not neutral, but rather part of social practices that reflect and produce the power and values of society.
Copyrights © 2025