Dalam lingkungan kerja modern yang dinamis, workplace learning (WL) menjadi kunci adaptasi dan kinerja organisasi jangka panjang. Budaya organisasi (BO) diakui sebagai penentu utama efektivitas implementasi WL. Kajian literatur naratif ini bertujuan menganalisis peran BO dalam implementasi WL, dengan fokus menjawab: (1) bagaimana BO memfasilitasi atau menghambat WL, dan (2) elemen budaya apa yang paling kritis dalam mendukungnya. Metode kajian menerapkan lima tahap sistematis (perencanaan, pencarian, seleksi, analisis tematik, dan sintesis) terhadap 20 studi empiris dan konseptual. Hasil sintesis menunjukkan bahwa BO berperan secara dualistik. Budaya yang adaptif, berorientasi pembelajaran (learning culture), dan mendukung keamanan psikologis memfasilitasi WL melalui peningkatan regulasi diri (self-regulated learning), inisiatif proaktif, dan kolaborasi. Sebaliknya, budaya yang kaku, hierarkis, dan birokratis menghambat WL dengan membatasi eksperimen dan otonomi. Tiga elemen budaya yang paling kritis teridentifikasi: dukungan terhadap otonomi dan inisiatif; nilai kolaborasi, inovasi, dan keterbukaan; serta dukungan relasional dan sosial dari manajer dan rekan kerja. Implikasinya, organisasi perlu secara sadar merancang dan mengelola budaya yang menekankan elemen-elemen kritis ini, melampaui sekadar program pelatihan formal. Kajian ini menegaskan BO sebagai sarana strategis aktif yang membentuk efektivitas pembelajaran di tempat kerja.
Copyrights © 2025