Kajian sistematik ini menelaah penelitian kuantitatif tentang Islam dan toleransi yang diterbitkan antara tahun 2015–2025 dengan tujuan mengidentifikasi faktor‑faktor penentu toleransi pada komunitas Muslim, efektivitas intervensi peningkatan toleransi serta karakteristik metodologis penelitian. Pencarian dilakukan di sembilan basis data (JSTOR, Google Scholar, ProQuest, ATLA Religion Database, Index Islamicus Online, Scopus, Al‑Maktabah Al‑Shamela, Islamic Studies Online, dan Sinta) menggunakan kata kunci “Islam”, “toleransi”, “religious tolerance”, dan sinonimnya dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Seleksi artikel mengikuti protokol PRISMA‑P dan kriteria PICOS. Dari 1 kilasan, 30 studi primer kuantitatif memenuhi kriteria inklusi (survei, eksperimen, analisis longitudinal) dan dianalisis secara naratif serta tabulatif. Penilaian kualitas menggunakan ROBINS‑I menunjukkan sebagian besar studi memiliki risiko bias rendah hingga moderat. Studi‑studi tersebut menunjukkan bahwa toleransi dipengaruhi oleh faktor sosio‑demografis (pendidikan dan pendapatan meningkatkan toleransi[1]), orientasi religius dan sifat kepribadian[2], pengalaman multietnik[3], kerendahan hati intelektual[4] dan fleksibilitas kognitif[5], serta konteks institusi (sekolah, universitas, kota). Intervensi seperti permainan digital (OMG app) dan program pendidikan religius terbukti meningkatkan skor toleransi[6]. Survei berskala besar (Pew Research Center) menunjukkan masyarakat India menghargai penghormatan terhadap semua agama tetapi tetap memilih segregasi[7]. Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan progresif, penguatan moderasi beragama, serta kebijakan berbasis bukti untuk mempromosikan toleransi. Kajian ini juga mengidentifikasi kesenjangan penelitian, seperti kurangnya studi longitudinal dan data komparatif lintas negara.
Copyrights © 2025