Secara global, dorongan menuju energi terbarukan semakin kuat, namun perusahaan minyak besar seperti Shell berada pada posisi yang ambivalen. Shell memiliki modal, teknologi, dan jaringan global yang dapat mempercepat transisi energi, tetapi ketergantungannya pada keuntungan minyak dan gas membuat perubahan menjadi lambat. Tekanan investor, kritik greenwashing, dan tuntutan masyarakat sipil juga memaksa Shell mengevaluasi komitmennya terhadap energi bersih. Shell telah melakukan investasi pada energi terbarukan, menetapkan target net zero emissions pada 2050, serta merestrukturisasi portofolio bisnisnya agar mencakup energi rendah karbon. Namun demikian, minyak dan gas masih menjadi sumber utama pendapatan dan emisi perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi transisi Shell lebih bersifat peningkatan bertahap (melioration) dibandingkan transformasi struktural. Oleh karena itu, meskipun Shell memiliki potensi signifikan dalam mendukung transisi energi global, kontribusinya masih terbatas. Diperlukan tata kelola global yang lebih kuat, regulasi nasional yang tegas, serta transparansi korporasi agar TNC seperti Shell dapat berperan nyata dalam mencapai keberlanjutan jangka panjang.
Copyrights © 2025