ABSTRACT In 2012, the Majalengka Regency Government planned to develop the former Jatiwangi sugar factory into a commercial area. JAF, along with the Jatiwangi community, responded by holding the Rampak Genteng Festival in the area and making it a triennial event. Over the course of its existence, the festival has received various awards from the government, and the government has invited JAF to manage the area as a public space. This research aims to identify how art can be used as a medium for development communication. The analysis was conducted using Melkote and Steves' development communication theory. This research uses a constructivist interpretive paradigm and a single case study method. From the discussions conducted, it was identified that in the Rampak Genteng Festival, the form of dialogue on development messages about the community's anxiety and resistance to the massive land conversion that occurred in Jatiwangi was packaged in the form of the Jatiwangi Pledge. In the tug-of- war over the land use change of the former Jatiwangi sugar factory between the government-investors versus JAF- community, the JAF and the community asserted their territorial claims through song and dance. Dialogue and participation were demonstrated by the sound of rampak roof tiles played by all participants. Meanwhile, from the government side, giving awards, the presence and statements of appreciation by state officials are a way that feels more respectful and familiar to the community to show that the government hears and considers the aspirations of the community in the development of this area. ABSTRAK Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Majalengka berencana melakukan pembangunan area bekas pabrik gula Jatiwangi sebagai wilayah komersial. Rencana pembangunan ini dilakukan tanpa melibatkan dialog dengan masyarakat. JAF bersama masyarakat Jatiwangi memberikan reaksi dengan menggelar Festival Rampak Genteng di area ini dan menjadikan sebagai kegiatan 3 tahunan. Dalam perjalanannya, festival ini mendapatkan berbagai penghargaan dan pengakuan dari pemerintah, dan pemerintah mengajak JAF, mewakili unsur masyarakat, untuk mengelola area ini sebagai ruang publik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana seni dapat dijadikan media komunikasi pembangunan. Analisis dilakukan dengan teori komunikasi pembangunan Melkote and Steves dengan konsep utama: dialog dan partisipasi. Penelitian ini berparadigma interpretif konstruktivis, dan metode studi kasus tunggal. Dari diskusi yang dilakukan, teridentifikasi bahwa dalam Festival Rampak Genteng, wujud dialog pesan pembangunan tentang kegelisahan dan resistensi masyarakat atas alih fungsi lahan masif yang terjadi di Jatiwangi dikemas dalam bentuk Ikrar Jatiwangi yang disuarakan dengan lantang, namun tidak tampak sebagai perlawanan melalui kekerasan. Dalam tarik ulur alih fungsi lahan bekas pabrik gula Jatiwangi antara pemerintah-investor versus JAF-masyarakat, klaim wilayah dilakukan JAF dan masyarakat melalui lagu dan tari. Dialog sekaligus partisipasi ditunjukkan dengan bunyi rampak genteng yang ditabuh oleh seluruh partisipan yang ada dalam festival tersebut. Partisipasi juga ditunjukkan dengan berbagai karya seni terakota pada gerbang acara. Sedangkan dari pihak pemerintah, pemberian penghargaan, kehadiran dan pernyataan penghargaan pejabat negara merupakan cara yang terasa lebih terhormat dan akrab dengan masyarakat untuk menyatakan bahwa pemerintah mendengar dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat dalam pembangunan area ini.
Copyrights © 2025