Aksioma makroekonomi klasik mengenai stabilitas harga kini menghadapi tantangan struktural akibat penetrasi ekonomi digital yang mengubah fundamental pasar secara radikal. Model inflasi ortodoks, yang bertumpu pada asumsi kekakuan harga (price rigidity) dan friksi transaksi, dinilai mengalami penurunan relevansi dalam menjelaskan fenomena inflasi kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pemahaman teoretis mengenai mekanisme transmisi inflasi dengan membedah dikotomi antara efisiensi pasar digital dan likuiditas moneter. Menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR), studi ini mensintesis 24 artikel bereputasi dan working papers otoritas moneter yang diterbitkan pada rentang 2018–2025. Hasil analisis mengungkap bekerjanya dua kekuatan yang saling berinteraksi: (1) Fenomena Amazon Effect yang bertindak sebagai "jangkar disinflasi" melalui peningkatan transparansi harga dan penurunan menu costs; dan (2) Akselerasi Velocity of Money akibat digitalisasi pembayaran yang menekan sisi permintaan, namun dampaknya termoderasi oleh efisiensi struktural. Lebih jauh, studi ini mengonfirmasi terjadinya pendataran Kurva Phillips (flattening of the Phillips Curve) yang mengindikasikan melemahnya sensitivitas inflasi terhadap instrumen suku bunga konvensional. Implikasi kebijakan menuntut pergeseran paradigma bank sentral dari pengendalian moneter tradisional menuju adopsi big data dan integrasi variabel transaksi digital sebagai indikator utama stabilitas harga.
Copyrights © 2025