Studi ini mengeksplorasi perkembangan orientalisme di berbagai negara Barat dengan fokus pada kajian Al-Qur'an dan Islam. Secara historis, orientalisme telah berevolusi dari pendekatan teologis-polemik pada abad pertengahan menuju disiplin filologi dan historis-kritis yang mapan pada abad ke-18, hingga menjadi studi wilayah yang bersifat politis-strategis pasca Perang Dunia II. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini memetakan karakteristik unik di berbagai negara: Jerman dengan tradisi filologi ketat; Inggris yang awalnya dipengaruhi kepentingan kolonial; Prancis dengan pendekatan linguistik dan sosiologi; serta Amerika Serikat yang mengedepankan teori kritis interdisipliner. Temuan menunjukkan bahwa meskipun orientalisme memberikan kontribusi besar dalam pengembangan studi naskah dan leksikon, ia juga mengandung bias epistemologis sebagai "wacana kekuasaan" sebagaimana dikritik oleh Edward Said. Sebagai respons, muncul gerakan "Post-Orientalisme Kritis" di kalangan sarjana Muslim yang berupaya mengadopsi metodologi kritis Barat untuk menafsirkan kembali tradisi Islam secara otonom dan mandiri.
Copyrights © 2026