Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis secara mendalam perbedaan antara Orientalisme dan Oksidentalisme berdasarkan empat aspek utama, yaitu geografis, etnologis, kultural, dan metodologik. Analisis ini dimaksudkan untuk menitikberatkan pada bagaimana kedua pandangan tersebut membentuk pola hubungan antara Timur dan Barat dalam memahami peradaban serta pengaruhnya terhadap perkembangan studi Alquran dan Tafsir. Orientalisme lahir di Barat dengan semangat ilmiah dan rasional yang sering kali disertai bias kolonial serta dominasi kultural. Sebaliknya, Oksidentalisme berkembang di Timur sebagai respons reflektif terhadap hegemoni Barat dengan menonjolkan nilai spiritualitas, keaslian budaya, dan keseimbangan intelektual. Pembahasan ini juga dihubungkan dengan nilai-nilai universal Alquran sebagaimana tercermin dalam QS. al-Ḥujurāt [49]:13, QS. ar-Rūm [30]:22, QS. al-Ḥadīd [57]:20, dan QS. an-Naḥl [16]:125 yang menegaskan pentingnya saling mengenal, menghargai perbedaan, dan berdialog dengan hikmah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan etnografi dan studi kepustakaan, melalui penelaahan literatur klasik dan kontemporer dari tokoh-tokoh seperti Edward Said, Hassan Hanafi, Seyyed Hossein Nasr, dan Ismail Raji al-Faruqi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Orientalisme menekankan objektivitas ilmiah dan analisis empiris dengan sudut pandang luar, sedangkan Oksidentalisme berupaya membangun pemahaman dari dalam yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Novelti atau keunikan analisis yang sangat signifikan ini terletak pada keterpaduan antara kajian akademik Orientalisme-Oksidentalisme dengan perspektif normatif Alquran, yang memandang perbedaan keduanya bukan sebagai pertentangan, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan dialog peradaban yang berkeadilan, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.
Copyrights © 2026