Latar Belakang: Locomotive Syndrome (LS) menurunkan mobilitas dan kemandirian lansia. Skrining komunitas lazim mengintegrasikan tiga komponen Locomotive Syndrome Risk Test (LSRT), yakni GLFS-25 (gejala/disabilitas), Two-Step test (test panjang langkah dalam kemampuan berjalan), dan Stand-Up test (kekuatan fungsional ekstremitas bawah). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk merangkum bukti ilmiah mengenai penggunaan GLFS-25, Two-Step Test, dan Stand-Up Test dalam penilaian Locomotive Syndrome komunitas lansia. Metode: Narrative review atas delapan artikel terpilih (2020-2025) berbasis jurnal scopus, ekstraksi mencakup penerapan di komunitas lansia, prosedur utama, cut off dan staging LS, karakteristik psikometrik GLFS‑25, serta hubungan dengan parameter fungsi berjalan dan keseimbangan. Hasil: Ketiga instrumen konsisten digunakan untuk mengklasifikasikan LS‑1, LS‑2, dan LS‑3. GLFS‑25 menunjukkan reliabilitas kuat, sementara Two Step test dan Stand Up test selaras dengan indikator jalan dan kekuatan tungkai. Simpulan: Kombinasi GLFS‑25, Two-Step test, Stand-Up test layak sebagai alur skrining kelompok lansia dan pemantauan perubahan, dapat dilengkapi TUG/BBS/OLST sesuai kebutuhan sumber daya.
Copyrights © 2025