Pembelajaran abad ke-21 telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan, yang dapat digambarkan sebagai sebuah 'renaisans'. Berfokus pada pengembangan kemampuan krusial seperti pemikiran kritis, kreativitas, dan literasi digital. Dalam konteks ini, Massive Open Online Course muncul sebagai inovasi kunci yang merevolusi pendidikan tradisional dengan menawarkan akses belajar yang luas, fleksibel, dan asinkron melalui platform digital. Artikel ini menganalisis peran MOOC sebagai pendorong utama dalam kebangkitan pembelajaran abad ke-21, khususnya dalam meningkatkan inklusivitas dan kualitas pembelajaran digital. Berdasarkan kajian literatur sistematis (2013-2025), MOOC terbukti efektif memperluas akses pendidikan dan mendorong kemandirian belajar. Namun, ada kendala seperti motivasi peserta, interaksi sosial, dan infrastruktur teknologi. Kesenjangan penelitian mencakup minimnya studi empiris tentang keterlibatan dan retensi peserta MOOC di negara berkembang, serta integrasi AI untuk mengatasi kesenjangan pencapaian. Sebagai solusi, diusulkan model pembelajaran hibrida yang menggabungkan elemen asinkron dengan interaksi aktif berbasis AI untuk meningkatkan inklusivitas dan kualitas pembelajaran.
Copyrights © 2025