Rawai layur merupakan alat tangkap dominan dalam menangkap ikan layur di PPN Palabuhanratu yang merupakan salah satu komoditas ekspor andalan. Jumlahnya berfluktuasi setiap tahun menyebabkan produksi ikan tidak menentu dan memengaruhi produktivitasnya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan unit penangkapan, mengidentifikasi jenis dan menghitung jumlah hasil tangkapan, mengidentifikasi daerah penangkapan ikan serta menghitung nilai produktivitas kapal dan alat tangkap rawai layur di PPN Palabuhanratu. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara kepada 24 orang responden nelayan aktif dari kapal yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal rawai layur adalah kapal motor tempel bercadik berkapasitas 2 GT, sedangkan alat tangkap berupa rawai dasar yang dioperasikan di kedalaman sekitar 60 meter dengan menggunakan umpan ikan tembang segar dan layur beku. Metode pengoperasiannya terdiri atas empat tahap yaitu persiapan, setting, soaking, dan hauling. Daerah penangkapan di perairan Ujung Genteng hingga Ujung Kulon. Hasil tangkapan utama adalah ikan layur dan hasil tangkapan sampingan di antaranya ikan tongkol pisang cerutu, layang anggur, cucut tikus/cucut monyet, swanggi, dan lain-lain. Nilai produktivitas kapal terindikasi rendah karena berada di bawah standar KEPMEN-KP No.98 Tahun 2021 dengan rata-rata 0,33 ton/GT/tahun, sedangkan nilai produktivitas alat tangkap rawai layur berada pada rata-rata 0,04 ton/trip. Temuan ini mengindikasikan perlunya evaluasi dan strategi pengelolaan yang lebih baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi perikanan rawai layur di PPN Palabuhanratu.
Copyrights © 2025