Anak berkebutuhan khusus merupakan kelompok rentan terhadap kejahatan seksual karena keterbatasan pemahaman informasi yang mereka dapatkan. Oleh karena itu, perlu memberikan edukasi pencegahan pelecehan seksual kepada anak berkebutuhan khusus sebagai upaya perlindungan diri melalui pengenalan area-area tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Permasalahan yang dialami mitra adalah belum adanya edukasi mengenai pencegahan pelecehan seksual yang dilakukan. Selain itu, pelatihan edukasi belum menggunakan media kreatif. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan lima tahapan yaitu analisis situasi, penyusunan rencana kegiatan, pelaksanaan pelatihan, evaluasi, dan pelaporan kegiatan. Pelaksanaan pelatihan meliputi pengenalan anggota tubuh, edukasi anggota tubuh yang tidak boleh disentuh, dan pengenalan emosi. Lembar evaluasi yang digunakan adalah media wayang yang diberikan kepada peserta sebagai lembar kerja untuk ditandai area tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh. Peserta adalah anak berkebutuhan khusus tunagrahita yang berjumlah 42 orang. Hasil menunjukkan bahwa 45% mayoritas siswa telah mampu menunjukkan area tubuh yang boleh disentuh. Sementara 57% mayoritas siswa telah mampu menunjukkan area tubuh yang tidak boleh disentuh. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dimaknai bahwa program memberikan dampak yang positif terhadap pemahaman siswa untuk mengenali dan menyadari batasan privasi tentang tubuh sebagai upaya pencegahan pelecehan seksual.
Copyrights © 2026