Penelitian ini mengkaji filosofi wabi-sabi sebagai pandangan hidup masyarakat Jepang yang berakar pada ajaran Zen Buddhisme dan menekankan kesederhanaan, penerimaan ketidaksempurnaan, serta kesadaran akan kefanaan. Topik ini penting karena wabi-sabi selama ini lebih banyak dipahami sebatas konsep estetika, sementara dimensi etis dan spiritualnya sebagai cara hidup belum banyak dikaji, khususnya dalam dialog dengan pemikiran Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis wabi-sabi dari perspektif tasawuf akhlaki untuk menemukan keselarasan nilai-nilai etis dan spiritual di antara keduanya. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan deskriptif-analitis melalui telaah terhadap literatur filsafat Jepang dan karya-karya tasawuf akhlaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai utama wabi-sabi memiliki korespondensi etis dengan maqāmāt dalam tasawuf akhlaki, khususnya sabar, syukur, zuhud, qanā‘ah, dan ridha. Keduanya sama-sama menekankan kesederhanaan, penerimaan terhadap realitas, kesadaran akan kefanaan, dan rasa cukup sebagai jalan menuju ketenangan batin. Meskipun berbeda secara teologis, wabi-sabi dan tasawuf akhlaki menawarkan kerangka etis yang relevan untuk membentuk sikap hidup yang bijaksana di tengah modernitas yang materialistis dan perfeksionis.
Copyrights © 2026