Hegemoni globalisasi telah mendisrupsi tatanan nilai keluarga Muslim melalui penyebaran ideologi childfree dan kebebasan seksual yang mendekonstruksi filosofi pernikahan Islam dari orientasi sakral-transendental menjadi kontrak privat berbasis otonomi tubuh semata. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konstruksi epistemologis dan strategi respon tekstual dalam literatur pesantren kontemporer saat mengontekstualisasikan doktrin Maqasid al-Shari’ah, khususnya aspek hifz al-nasl (pemeliharaan keturunan), guna menjawab validitas argumen hak reproduksi global tersebut. Menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan filosofis-yuridis, penelitian ini menelaah secara kritis kitab-kitab turats, keputusan Bahtsul Masail, dan pemikiran ulama pesantren modern yang dianalisis menggunakan pisau bedah usul fiqh seperti Sadd al-Dharai’ dan Maslahah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa literatur pesantren tidak merespons modernitas dengan penolakan dogmatis buta, melainkan melalui dialektika metodologis yang canggih; yakni dengan melakukan distingsi tegas antara tanzim al-nasl (pengaturan kelahiran) yang diterima sebagai bentuk adaptasi rasional-medis, dengan tahdid al-nasl (pemutusan keturunan) yang ditolak keras karena melanggar hak Tuhan (haqqullah). Pesantren merekonstruksi narasi prokreasi bukan sekadar sebagai fungsi biologis, melainkan sebagai investasi peradaban dan mandat teologis yang tidak dapat dibatalkan oleh hak asasi individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap pesantren merepresentasikan bentuk resiliensi intelektual hukum Islam yang menawarkan konsep “kebebasan bertanggung jawab”, sekaligus berfungsi sebagai benteng imunitas sosial (social immunity) yang vital untuk menjaga keberlangsungan demografi umat dan ketahanan keluarga di tengah gempuran hedonisme global
Copyrights © 2026