Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecurigaan peneliti terhadap adanya pengaruh perubahan penggunaan tindak tutur dalam novel sebagai konsekuensi dari perubahan perilaku berujar masyarakat. Perubahan tersebut berdampak pada munculnya bentuk-bentuk interjeksi dalam novel yang tidak ditemukan dalam Bahasa Indonesia baku. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik telaah pustaka, simak-catat, dan reflektif-introspektif. Validasi data menggunakan teknik triangulasi data, sedangkan analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel pascareformasi menggunakan sepuluh jenis interjeksi yang berbeda dari interjeksi dalam Bahasa Indonesia. Interjeksi tersebut meliputi: (1) interjeksi kejijikan, seperti hi dan hi hi; (2) interjeksi kekesalan, seperti hus, lonte, persetan, anjing, perek, bodoh, tolol, dan anjir; (3) interjeksi kekaguman, seperti wow, wah, dan wuidiiih; (4) interjeksi kesyukuran, seperti syukurlah, oh syukurlah, alhamdulillah, dan syukur alhamdulillah; (5) interjeksi harapan, seperti ya Gusti Allah, please ya, ya Allah, semoga, good luck, dan amin; (6) interjeksi keheranan, seperti oh ya, hmmm, kok, lho kok, duh, dan waduh; (7) interjeksi kekagetan, seperti hah, wah, astagfirullah, innalillah, wualah, dan hedede wadidau; (8) interjeksi ajakan, seperti yuk, ayuk, ayolah, hayo, kemarilah, dan yok; (9) interjeksi panggilan, seperti hoooiii, oi, woooeee, hey, hei, heh, hellooow, dan wahai; serta (10) interjeksi simpulan, seperti yah, toh, yeah, nah good, dan na.
Copyrights © 2025