Perkembangan teknologi mutakhir, khususnya kecerdasan buatan dan integrasi otak-komputer, menandai pergeseran cara manusia memahami dan merekayasa eksistensinya. Gagasan transhumanisme yang dipelopori Ray Kurzweil menjadi salah satu wacana sentral dalam arus perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsep hakikat diri, kesadaran, dan keselamatan dalam pandangan transhumanisme Kurzweil dan Buddhisme Mahāyāna. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya utama Kurzweil dan teks-teks otoritatif Mahāyāna, terutama Mūlamadhyamakakārikā, dan dianalisis dengan teknik analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurzweil memandang diri sebagai pola informasi yang dapat disalin, kesadaran sebagai hasil emergen pemrosesan digital, dan keselamatan sebagai keberlanjutan eksistensi melalui mind uploading. Sementara Mahāyāna melihat diri sebagai kosong dari esensi (śūnyatā), kesadaran sebagai arus non-substansial (vijñāna), dan keselamatan sebagai pembebasan dari keterikatan melalui pencerahan. Meskipun keduanya sama-sama mengusung semangat transformatif, pendekatan Kurzweil bersifat teknologis-material, sedangkan Mahāyāna bersifat kontemplatif-eksistensial. Penelitian ini menyiratkan pentingnya membangun dialog kritis antara filsafat teknologi dan tradisi spiritual sebagai bekal menavigasi masa depan kemanusiaan.
Copyrights © 2025