Humans as Homo religiosus, driven by their intellectual instincts, often revisit questions about the existence of God. The presence of religious doctrines that encourage humans to contemplate more about God’s creation rather than His essence raises the question of whether there is still an interrelation between discussions on divinity and human religiosity when that is pursued. This study investigates the arguments for God’s existence, the critiques of these arguments, and their interrelation with human religiosity. The aim is to clarify the understanding of human religiosity while creating a space for critical and in-depth dialogue. This research employs a library research method, gathering data from books, journal articles, and other relevant literature. A philosophical approach and qualitative analysis techniques are used. The findings of this article, include: First, the arguments for God’s existence, whether apriori or aposteriori, each face unavoidable criticisms. These arguments are efforts to justify faith within religiosity. Second, the critiques, in the context of Homo religiosus, provide opportunities to reflect and reassess understanding of God and related beliefs. Third, the inconsistencies or incompleteness in arguments for God’s existence reflect the nature of knowledge and reality that can be understood as consistent and complete at the same time if only at a higher level of infinity. The limitations within each available argument can be understood as something that drives self-awareness toward a more inclusive and profound level of religiosity.Abstrak Eksistensi Tuhan merupakan salah satu topik dalam kajian filsafat yang tak pernah selesai diperbincangkan. Terdapat berbagai macam argumen dari para filsuf tentang eksistensi Tuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kritik atas argumen-argumen yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan yang datang kemudian. Pertanyaan menarik seputar kajian tentang Tuhan mencakup: bagaimanakah argumen-argumen terkait eksistensi Tuhan? Apakah argumen-argumen tersebut dapat menunjukkan atau bahkan membuktikan eksistensi Tuhan? Seiring berkembangnya zaman, adakah kritik yang menyangga argumen-argumen tersebut? Artikel ini menggunakan metode library research dengan pendekatan filosofis untuk membahas hal tersebut. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini mencakup: (1) argumen ontologis yang menjelaskan eksistensi Tuhan berdasarkan definisinya tidak lebih dari akrobat logika, (2) argumen kosmologis yang menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta serta gerak alam bermula dari satu muasal mengandung inkonsistensi dan tidak koresponden, (3) argumen teleologis didasarkan pada Tuhan sebagai pengatur dan perencana yang luar biasa merupakan over generalisasi, (4) argumen moral yang menjelaskan bahwa Tuhan harus adanya, mengandung asumsi yang dipaksakan terhadap realitas dan inkoheren dengan makna eksistensi. Kemudian, (5) argumen taruhan hanya didasarkan pada upaya pragmatis menghadapi problem Tuhan dan (6) argumen pengalaman religius didasarkan pada subjektivitas yang tidak dapat diuji dan diverifikasi. Semua argumen yang ada cenderung berupa simplifikasi atau over generalisasi, sehingga belum menunjukkan dan membuktikan secara kuat akan eksistensi Tuhan.