Meningkatnya kebutuhan perawatan lansia di Indonesia menunjukkan tantangan dalam memenuhi tuntutan kesehatan fisik, mental, dan sosial individu lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan utama yang memengaruhi kebutuhan dan preferensi layanan kesehatan pada lansia. Menggunakan desain observasional potong lintang, data dikumpulkan dari 61 lansia berusia 54 hingga 82 tahun di 14 Posyandu Lansia di Samarinda. Kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari alat yang telah divalidasi, termasuk SF-36 dan UCLA Loneliness Scale, digunakan untuk menilai karakteristik demografi, tingkat kelemahan, aktivitas harian, kesehatan kognitif, dan kesejahteraan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 32,8% responden membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya, dengan kelemahan fisik (p=0,021), kemandirian aktivitas harian (p=0,039), dan penurunan kognitif (p=0,036) secara signifikan memengaruhi kebutuhan tersebut. Sebagian besar responden menilai kondisi kesehatan fisik (78,7%) dan mentalnya (75,4%) baik, meskipun 39,3% melaporkan gejala depresi. Dukungan sosial cukup umum, dengan 75,4% memiliki pendamping dari keluarga atau pengasuh, namun hal ini tidak secara signifikan memengaruhi kebutuhan kesehatan (p=0,186). Temuan ini menegaskan sifat multidimensi kebutuhan kesehatan lansia, dengan kelemahan fisik, penurunan kognitif, dan kemandirian aktivitas harian sebagai determinan utama. Intervensi yang berfokus pada area ini, disertai dengan peningkatan sistem dukungan, dapat meningkatkan akses dan hasil layanan kesehatan untuk populasi lansia. Studi ini menemukan pentingnya model layanan kesehatan terpadu yang mencakup dimensi fisik, kognitif, dan sosial untuk memberikan perawatan yang komprehensif bagi lansia.
Copyrights © 2025