Artikel ini mengkaji kritik terhadap paradigma positivistik yang berkembang pada abad ke-18 dan ke-19 serta dampaknya terhadap globalisasi pendidikan. Positivisme, sebagai puncak pemikiran modern, membatasi kebenaran hanya pada hal-hal empiris, sehingga melahirkan krisis epistemologis berupa dikotomi antara ilmu dan agama. Kondisi ini semakin diperparah oleh globalisasi sistem pendidikan yang mendorong sekularisasi ilmu di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagai alternatif, konsep integrasi agama dan sains ditawarkan untuk membangun kembali kerangka ilmu yang tidak hanya rasional, tetapi juga spiritual. Kajian ini menggunakan metode studi pustaka dengan sumber jurnal ilmiah terbaru. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi agama dan sains menjadi fondasi filosofis yang relevan untuk menyatukan kembali ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan dalam dunia pendidikan.
Copyrights © 2025