Latar Belakang: COVID-19 merupakan penyakit menular dengan tingkat penularan tinggi, sehingga diagnosis cepat dan akurat sangat penting untuk mengendalikan penyebaran. Saliva memiliki potensi sebagai alternatif diagnostik non-invasif untuk mendeteksi SARS-CoV-2. Metode: Penelitian ini menggunakan studi literatur sistematis terhadap publikasi tahun 2020–2025 dari PubMed, Scopus, dan Google Scholar yang membahas penggunaan saliva sebagai spesimen diagnostik COVID-19. Hasil: Kajian menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas saliva sebanding dengan spesimen nasofaring, dengan tingkat kesesuaian diagnosis lebih dari 90%. Saliva dinilai praktis, hemat biaya, serta dapat mengurangi risiko penularan kepada tenaga medis. Namun, terdapat potensi false negatif atau positif pada fase awal penyakit yang perlu diperhatikan. Kesimpulan: Saliva memiliki keunggulan sebagai cairan diagnostik COVID-19 yang efektif, aman, dan nyaman, serta berpotensi digunakan secara luas untuk skrining dan pemantauan penyakit.
Copyrights © 2025